Dibalik keberadaannya. - Suasana baru (Lanjutan jilid 2)

Aku mengangguk.
“Tadi aku melihatmu menatap keluar jendela? Ada apa?” aku masih penasaran. Soalnya dia yang berbeda dari siswa lain.

Ichwan terdiam sebentar. Lalu meletakkan buku gambar dan pensil. Dia menatap wajahku. Matanya yang cokelat terlihat bagus.
“Apakah temanmu memberitahukan sesuatu?” Aku mengkerutkan kening. “Memberi tahu tentang apa?”
Dia terdiam. Kemudian melihat ke depan. Aneh sekali ini orang, pikirku. Dia menatapku lagi. Kali ini lebih tajam.

Apakah ada seseorang dibelakangku? Aku memutar kepala. Tak ada siapa-siapa.
Ichwan masih saja begitu. Aku mulai sedikit canggung, atau bisa dibilang khawatir.
“Ada yang salah dari diriku?” Ichwan tersenyum.
Bukan tersenyum biasa. Aku merasakan ada suatu hal dibalik senyuman itu. Penuh makna. Sayangnya aku tidak tahu.
“Tidak ada yang salah.” Ichwan berdiri, mengambil pensil dan buku gambar kemudian berjalan pergi. “Raja Stam,” ujarnya sambil berjalan.
“Kamu harus berhati-hati. Mungkin sebentar lagi kamu akan mengetahui semuanya.” Aku terdiam. Mencerna setiap kata yang dia bicarakan. Sungguh, aku tidak mengerti apa maksud dia omongan itu, memangnya untuk apa aku harus berhati-hati? Aku mulai penasaran dengan orang itu. Dia misterius. Sesuatu dalam pikiranku muncul. Apakah jangan-jangan aku akan mengalami hal serupa yang pernah ku alami sejak aku kecil?

KRIIIINNNGGGG!

****
Jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Sebentar lagi malam.
Lorong sekolah sunyi sekali. Tidak kulihat siswa yang berkeliaran di koridor. Bahkan aku tidak mendengar suara-suara yang keluar dari mulut mereka.
Apa memang selalu seperti ini? Hening. Aku mendengar setiap sunyi langkah yang dihasilkan oleh kakiku.
Entah kenapa aku merasa ada seseorang yang mengikutiku dibelakang. Aku merasa sedang diikuti. Aku berhenti. Kemudian memutarkan kepala. Tak ada siapapun. Bagus, aku merinding. Secepat mungkin aku melangkah menjauhi tempat ini.

Hingga akhirnya aku sampai di lantai tiga. Sama saja, tidak ada siapa siapa di koridor ini. Semuanya sedang meringkuk di dalam ruangan.
“Seharusnya aku tidak ikut menginap disekolah.” Gumamku.
Lampu berkedip-kedip. Seram sekali.

Aku mencari ruangan tempat aku tidur nanti. Agak gelap disini, karena cahayanya sedikit remang-remang dan berkedip-kedip.
Bingo! Akhirnya aku menemukan ruanganku. Kumasuki ruangan itu yang sudah diberitahu oleh pengurus sekolah, aku buka pintunya.

Tunggu dulu! Di ujung koridor sepertinya ada keanehan. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu di sana. Mataku tidak mau berhenti untuk terus menatap lurus kearah gelap. Lampu mulai berkedip lagi secara bergantian. Hidup lalu mati. Dan… Siapa itu? Ketika lampu diujung koridor berkedip.
Aku menemukan bayangan berdiri. Diam. Dan tidak melakukan apapun. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Aku merinding setengah mati. Lampu berkedip lagi dan sosok itu menghilang.

****
Aku masih berbaring dikasur tipis yang langsung di hamparkan di lantai.
Capek sekali hari ini. Aku sudah mengeluarkan barang-barang dan membereskan pakaian untuk seminggu ini.
Dalam ruangan ini, hanya ada diriku saja. Seharusnya aku bertiga disini, tetapi 2 orang itu kabur dari sekolah. Bosan sekali.

Aku mengambil sesuatu di dalam tas. Foto sahabat lamaku. Bagaimana keadaan mereka? Aku rasa baik-baik saja. Mungkin disana mereka berpikiran sama denganku. Entahlah aku tidak tahu.

Tok tok tok… Pintu kamarku digedor dari luar. Aku duduk.
“Siapa?” panggilku.

Hening.

Kemudian pintu diketuk lagi.
Aku mengulangi pertanyaan yang sama, aku berdiri. Masih saja hening. Aku kesal. Siapa yang berani mengerjaiku malam-malam begini? Mungkin karena aku anak baru dan juga ada kegiatan seperti ini disekolah.

Ketika aku membuka pintu, aku hanya menemukan gelap. Siapa tadi? Aku melihat kiri kanan. Tidak ada siapa-siapa disini selain aku yang kebingungan.
“Halo?” Aku mengetuk pintu ruangan sebelah. Tidak ada jawaban dari dalam.
Kemungkinan ada dua, mereka sudah tidur atau mereka malas untuk merespon. Aku memberanikan diri berlajalan menyusuri lorong kamar.

Oh, iya. Aku ingat. Ruangan Gusenda. Ruangannya sudah ada didepanku. Sebenarnya aku ragu mengetuk pintunya. Aku takut mengganggu Gusenda. Siapa tahu dia sibuk atau mungkin sudah tidur. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan Gusenda. “Siapa?” sebuah suara bertanya dari dalam ruangan. “Ini ruangan tidur Gusenda, bukan?” tanyaku meski tahu, ruangan Gusenda yang ini. Tapi, bisa saja ada siswa lain yang ditempatkan di sini.
“Ya, ini Gusenda. Siapa disana?”
“Raja.”
“Oh, Raja. Tunggu sebentar.”

Beberapa detik setelah itu pintu terbuka. Aku melihat Gusenda tersenyum.
Rupanya memang benar, kamar Gusenda berisikan orang lain. Mereka tampak tidak menghiraukanku. “Ada apa, Raja?” dia bertanya “Apakah kamu mendengar seseorang mengetuk pintu ruangan tidurku?”
“Sejak tadi, kami tidak mendengar seseorang datang. Mungkin kamu salah dengar.”
Jelas-jelas aku mendengarkan sendiri. Bahkan pintu kamarku bergetar akibat diketuk dari luar. Aku bukan berhalusinasi. “Em.. jadi kamu tidak tahu, ya? Aku hanya penasaran saja. Lagian aku sendirian saja diruangan. Oh ya, mereka berdua sekamar denganmu?” Gusenda mengangguk. “Benar sekali. Sebenarnya setiap kamar diisi 3 orang atau 2 orang siswa. Mengapa kamu hanya sendiri?”
“2 siswa yang sekamar denganku itu kabur, biarkan.”

Aku masih penasaran siapa yang mengetuk pintu kamarku tadi. Ditengah kebingungan, aku melihat seseorang berjalan melewatiku.
Eh, itu Ichwan? Apa yang dia lakukan malam-malam begini? Aku memperhatikannya. Dia terus berjalan menuju ujung koridor. Apakah kamarnya juga disini?
“Raja?” Aku tersentak kaget. Gusenda menatapku penuh curiga. “Ada apa?” Aku menggeleng, sambil tersenyum.
“Tidak ada apa-apa.” Gusenda melihat kearah Ichwan berjalan tadi. Lalu dia manatapku lagi. “Kamu seperti habis melihat sesuatu? Apa yang kamu lihat?” Aku menggeleng lagi. Kali ini aku mencoba meyakinkan Gusenda.
“Bukan apa-apa, kok. Eh menurutmu Ichwan Jamiel itu seperti apa orangnya?” tanyaku.
“Siapa tadi?” 
“Ichwan..,” perkataanku tiba-tiba dipotong salah seorang teman Gusenda dikamar itu.
“Raja, sepertinya aku akan membuat tugas bersama mereka berdua. Dan kamu tahulah..” Aku mengangguk. “Yasudah, tidak apa-apa. Lagian aku hanya ingin bertanya itu saja. Kamu juga tidak tahu siapa orangnya. Baiklah aku pergi.” Gusenda mengangguk. Kemudian menutup pintu kamarnya. Sekarang, tinggal-lah aku sendiri dilorong ini. Cahaya remang-remang. Besok aku akan mencari tahu dimana kamar Ichwan Jamiel.

****
Pagi ini aku belajar dengan Mr. Rahman. Keadaan kelas sama saja. Tetap hening dan membosankan, di depan kelas Mr. Rahman asyik dengan pelajarannya, sedangkan dibangku siswa banyak yang tidak memperhatikan pelajaran. Lebih dari setengah siswa yang tidak berniat belajar, termasuk aku.

“Hei, Raja.” Seseorang menanggilku. Siapa? Jangan bilang hal aneh lagi.
Ketika aku melihat kesamping, rupanya siswa perempuan melambai ke arahku. Aku menunjuk diriku sendiri. Kemudian perempuan itu mengangguk.
“Aku Nadia. Senang berkenalan denganmu,” ujarnya pelan. Aku tersenyum. “Ada apa?” “Bagaimana kalau saat jam istirahat kita berkeliling sekolah. Kamu ingin tahu bukan apa-apa saja yang ada disini?” Nadia mengajakku.

Sebenarnya aku sudah berniat mencari kamar Ichwan. Namun, aku juga ingin tahu isi sekolah ini. “Baiklah kalau begitu,” aku menyetujuinya. Tentang kamar Ichwan, nanti bisa diatur. “Oh, iya..” perkataan Nadia terpotong.
“Ehem” Mr. Rahman berdehem. Sontak aku dan Nadia terkejut. “Apa yang kalian lakukan dibelakang?” Kami berdua menggeleng.
“Fokus pada pelajaran!” ucap Mr. Rahman tegas. “Baik, Mr. Rahman” ujar kami berdua hampir bersamaan. Pada dasarnya, aku malas belajar hari ini. Ditambah lagi dengan suasana kelas yang selalu hening. Tidak ada yang berbicara selain Nadia.

Aku mengalihkan pandangan ke pintu. Sebentar lagi pelajaran Mr. Rahman akan berakhir. Tidak sabar ingin melihat semua bagian sekolah ini.
Eh, itu siapa. Aku membatin. Aku melihat seseorang berdiri di dekat pintu kelas. Kenapa dia hanya berdiri disana? Dia seperti memperhatikan kami semua. Siswa yang aneh. Aku melihat siswa dikelas ini. Siapa tahu, dia juga yang menyadari kehadiran perempuan itu.
Ternyata tidak ada satu pun. Mereka tetap fokus pada materi yang disampaikan guru. Lebih baik aku menyapa perempuan itu saja. Aku yakin dia pasti punya tujuan, mungkin dia malu masuk ke kelas. “Lho?” tidak sengaja aku mengeluarkan suara.

“Ada apa, Raja Stam? Ada yang tidak mengerti?” Mr. Rahman bertanya kepadaku.
“Oh, tidak Mr. Rahman, hanya saja aku sedikit ragu, tapi sekarang aku sudah mengerti.” Elakku meyakinkan Mr. Rahman. Aku bingung sekali. Bagaimana tidak? Ketika aku melihat gadis itu lagi, nyatanya sudah menghilang dalam hitungan detik.

Kalau misalkan perempuan itu pergi, aku pasti mendengar langkahnya karena kelas ini hening. Tidak sengaja aku melirik ke belakang. Baru saja aku melihat Ichwan mengubah pandangan dari menatap diriku, kembali ke jendela. Aku heran.
Kali ini aku memang yakin. Ichwan memang menyembunyikan sesuatu dariku.

0 Response to "Dibalik keberadaannya. - Suasana baru (Lanjutan jilid 2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel