Dibalik keberadaannya. Tersangka! (Jilid 4)
Saturday, 21 February 2015
Add Comment
Aku tidak bisa tidur, padahal aku sudah mencoba berbagai cara untuk bisa tidur, tetap saja rasa takut mengintariku.
Sudah pukul 2 malam dan mataku sudah berat, diluar sana hujan masih mengguyur.
Ketika seorang siswa laki-laki itu membawaku, acara makan telah berakhir. Satu hal yang masih membuatku bingung. Siapa wanita mengerikan yang dimaksud? Aku menjatuhkan diri.
Tiba-tiba music yang kudengar berganti sendiri. “Reverse”. Kok? Intrumen dari lagu ini menyeramkan.
Aku tidak suka “Reverse” sebab aku merasa instrument tersebut pertanda buruk. Apalagi sekarang sudah malam. Aku mematikan musik. Napasku berpacu. Diluar sana anjing melolong, mataku sudah tidak tahan lagi. Beberapa detik setelah itu mataku tertutup, entah kenapa atau mungkin hanya perasaanku saja, aku mendengar seseorang bernyanyi.
****
Laki-laki itu berdiri didepan sebuah rumah. Kabut putih menyebar, menutupi seluruh bagian sehingga tampak hanyalah atap dan cerobong asap.
Rumah yang sederhana, tetapi menyeramkan. Bulan purnama bersinar terang.
Dia berjalan menuju pintu rumah itu, diatas rating pohong burung hantu berbunyi. Setiap nada membuat detak jantungnya berpacu.
KREEEKKKK! Dia membuka pintu.
Gelap, berdebu, dan kotor adalah kesan pertama yang dia temukan. Dia menyapa ke dalam rumah. Hanya gema yang terdengar, bahkan terdengar seram. Mencoba melangkah lebih dalam.
Alhasil, dia menemukan sebuah meja using dengan sofa di sampingnya. Sayang, tempat itu sangat gelap. Hal pertama yang menimbulkan perhatian adalah kobaran api dari lilin.
Laki-laki itu mengambil sebatang lilin, kemudian memeriksa isi rumah.
Deg! Laki-laki itu berhenti. Matanya terbelalak, dia melihat sesuatu. Seseorang sedang menikmati ayunan kursi goyang. Namun, itu tidak berlangsung lama.
Akhirnya dia menyadari ada sosok laki-laki sedang menatapnya. Ini tidak mungkin! Orang itu… orang yang duduk di kursi goyang itu… adalah dirinya sendiri.
Mengapa? Cahaya lilin menyorot sesuatu yang lain. Seorang anak perempuan kecil sedang bermain dengan boneka. Dia berdiri disamping orang yang duduk di kursi goyang.
“Katakan selamat datang,” ujarnya kepada boneka yang digendongnya.
Laki-laki tersebut bisa melihat bagaimana kepala boneka berputar 360 derajat dan tersenyum kepadanya sambil mengatakan, “Halo?” Laki-laki diam di tempat.
Kakinya seolah di tancap paku tak terlihat. Napasnya memburu.
“Mom, ada tamu berkunjung kerumah kita.”
“Tunggu, aku akan kesana” ujar wanita tua menggema.
“Bilang halo kepada Mommy..” Apa yang terjadi sebenarnya? Laki-laki itu tampak cemas. Ketakutan membuncah di dadanya. Dia tidak melihat kehadiran ibu dari anak perempuan tersebut.
“Ada seseorang dibelakangmu!” Jantung seolah berhenti berdetak. Dia ketakutan. Perlahan dia memutar kepala. Alhasil… dia shock!
Mulutnya tidak bisa ditutup. Dibelakangnya, anak kecil itu tertawa bersama boneka karena lak-laki itu baru saja melihat… … seorang gadis tergantung dengan tali kasar melilit lehernya, lidahnya menjulur keluar, tubuhnya mebiru. Sedetik kemudian.. mata itu.. berkedip.
PRAK!
Laki-laki itu berlari menuju pintu. Dia sangat ketakutan. Makhluk-makhluk itu serasa mengejar. Dia menggedor pintu yang tertutup secara mendadak. Berteriak berharap ada orang yang mendengar. Dirinya yang duduk di kursi goyang mendadak berkata, “percuma saja, tidak ada yang bisa mendengarkanmu, meskipun kamu berteriak sampai urat lehermu putus!”
****
DUAAARRR! Petir membangunkanku dari mimpi buruk. Tadi itu sangat aneh, baru kali ini aku memimpikan hal-hal aneh seperti ini, bahkan di tempat tinggal lamaku, aku tidak pernah bermimpi buruk. Apa mungkin ini pertanda buruk? Ichwan pernah bilang, kalau kejadian menyedihkan telah dimulai. Apakah mimpi buruk ini adalah permulaannya?
Tap.. Tap.. Tap.. Terdengar langkah mendekat. Makin lama suara langkah kian terus mendekat. Mungkin penjaga yang sedang memeriksa atau bisa saja siswa baru saja keluar kamar untuk ke toilet. Tidak hanya berpikir, aku kembali berbaring dan merentangkan selimut.
****
Sinar mentari masuk melalui celah-celah fentilasi. Aku terbangun karena kicauan burung. Aku melirik jam dinding. Jarum pendek menunjukkan angka tujuh.
Sialan! Aku terlambat.
“Raja, cepatlah bangun!” Gusenda memekik dari luar kamar. “Aku sudah bangun, kok” jawabku. Gara-gara mimpi itu aku jadi telat. Menyebalkan!
“Cepatlah mandi. Sekarang kita akan belajar dengan Mrs. Jane. Kamu bakal dihanguskan jika terlambat!”
Argh! “Iya, tunggu sebentar. Aku lagi kacau.”
“Buka pintu dulu. Aku sudah seperti orang gila karena berteriak-teriak.” Aku membukakan pintu untuk Gusenda. “Yaampun, apa yang terjadi denganmu?” dia menggeleng-geleng karena melihat tampangku kusut sekali.
“Habis terkena bencana.” Ujarku singkat. “Oh ya, apa yang terjadi padamu kemarin malam? Kamu terlihat kebingungan dan takut?” TIDAK! Aku berteriak dalam hati. Jangan ungkit-ungkit masalah itu sekarang.
“Nanti saja aku bilang padamu.”
“Baiklah.”
“Gusenda, Raja, kalian melihat buku tugasku tidak?” Tanya Tri dengan tiba-tiba. Apalagi ini? Gusenda mendesakku cepat-cepat, sedangkan Tri malah menanyakan tugasnya yang hilang. Hal yang aku butuhkan sekarang hanya mandi dang anti seragam.
“Tadi malam aku meletakkan di dekat meja kamu!”
“Aku tidak tahu bukumu itu. Palingan diambil teman akrabmu.”
“Jangan salahkan Rizky.” Seketika aku berteriak. Gusenda dan Tri melongo. “Permisi sebentar, aku mau mandi.”
****
“Mrs. Caca bisa dibilang peramal yang andal. Dari sejarah hidupnya yang kubaca, beliau bisa meramal suatu kejadian menggunakan benda. Beliau juga bisa meramal kita, lho.” Nadia berbicara saat kami berjalan di koridor.
“Aku ingin diramal guru itu.” Ujar Tri.
“Aku pernah baca kalau Mrs. Caca bisa meramal pertanda buruk yang akan menimpa.”
“Berarti Mrs. Caca bisa meramal hal yang akan menimpa sekolah ini, dong?” Nadia mengangguk. “Kemungkinan besarnya begitu, tapi aku tidak tahu pasti apakah itu benar.” Aku tidak berbicara sepatah kata pun, pembicaraan mereka mengingatkanku pada kejadian kemarin malam yang hampir membuatku pingsan. Aku mengalihkan pandangan, di antara kerumunan anak perempuan, ada satu yang tampak berbeda. Pakaian perempuan itu sangat berbeda dari temannya. Ketika yang lain tertawa, dia hanya diam dengan tampang datar.
Eh, rasanya aku tahu deh, pakaian yang dikenakan itu. Oh iya, itu kan….
“Raja, kenapa diam? Ada masalah ya?” Tanya Tri. Aku menatapnya kaget.
“Oh, tidak, aku hanya memperhatikan kerumunan perempuan itu” ujarku lalu tersenyum.
“Oh.. aku tahu. Kamu menyukai salah satunya, ya?” tebak Gusenda. Aku memukul tangannya. “Heh, bukan itu maksudku!”
“Masa segitu aja marah, sih.”
“Aku tidak marah, kok”
Ternyata kami termasuk siswa yang datang agak terlambat, soalnya semua meja telah diisi. Ruangan Mrs. Caca berbeda dengan ruang-ruang guru lainnya, disini tidak ada kursi, hanya ada meja dengan bola Kristal di tengahnya dengan cangkir-cangkir di sekeliling bola. Itu berarti kami akan dikelompokkan. Satu meja hanya bisa menampung maksimal 3 orang. Jadi, Tri dan Rizky tidak bersamaku.
“Sudah siap untuk belajar?”
“Siap Mrs. Caca”
Mrs. Caca, guru dengan kacamata berlensa tebal, rambutnya pirang panjang dan lurus. Banyak kalung yang terpasang di leher Mrs. Caca dengan cincin dan kalung juga yang tidak kalah banyak. Memang seperti peramal sungguhan. Seseorang siswa bernama Faisal mengangkat tangan.
“Mrs, hari ini apa yang kita pelajari?”
“It’s simple. Kita akan meramal pertanda dengan menggunakan cangkir. Di meja kalian sudah ada tiga cangkir. Setiap cangkir berbeda-beda,” jelas Mrs. Caca. “Ada yang ingin bertanya lagi?”
Siswa lain mengangkat tangan lagi. “Mrs. Caca, aku penasaran bagaimana nasib sekolah ini, maksudku apakah ada pertanda-pertanda tentang sekolah ini?” Pertanyaan siswa itu membuat Mrs. Caca diam.
Aku tahu kalau ekspresi itu menunjukan kekhawatiran.
“Untuk sekarang tidak ada” jawab Mrs. Caca. “Baiklah, sekarang kita mulai pelajaran.”
Aku yakin Mrs. Caca menyembunyikan sesuatu dari kita semua soal sekolah ini, untuk pertama kalinya aku melihat Ichwan duduk bersama orang lain. Hanya saja mereka tidak berinteraksi. Maksudnya hanya Ichwan saja. Mereka berdua tetap berkomunikasi dan tidak menghiraukan kehadiran Ichwan disamping mereka.
Mrs. Caca melihat cangkir satu per satu, aku bingung, terkadang Mrs. Caca berkata “kamu akan diberikan kejutan special”, “kamu akan mendapat hal buruk”, “Oh, Nothing”.
Mrs. Caca berhenti sejenak melihat cangkir Nadia, anak itu pasti berpikir akan diramal yang baik-baik. Nyatanya, Mrs. Caca menunjukkan ekspresi kekhawatiran.
“Kamu sedang tidak beruntung, jangan sendirian di koridor saat malam tiba. Sesuatu yang jahat.. akan menarikmu. Membawamu kedalam kegelapan…”
Mendengar hal itu, Nadia syok. Seketika Nadia berdiri, lalu membuang cangkir itu kelantai, lalu pergi keluar. Mrs. Caca tersentak,
“Kenapa? Apakah aku salah bicara?” Aku dan Gusenda berpandangan, kami kemudian mengangkat bahu, sekarang giliranku.aku memberikan cangkirku itu ke Mrs. Caca dan dia tersentak. Dia terkejut dengan isi cangkirku, kami semua bingung, kecuali Ichwan. Tentu saja.
“Oh, my dear… masalahmu sungguh rumit, sangat buruk.. ini melambangkan Grim..”
“Apa itu Grim?” “Ada yang bisa bantu menjelaskan?”
Seseorang anak perempuan membuka buku dan membacanya. “Grim adalah lambing kematian. Biasanya yang mendapat lambing ini akan mendapat pertanda buruk yang biasanya mengarah pada kematian. Berhati-hatilah.. karena ini sangat berbahaya..”
Aku hanya diam, begitu juga yang lain termasuk Mrs. Caca, dia menatapku seolah menunjukan rasa kasihan. Hanya ada satu orang yang tampak berbeda. Ichwan.
****
“Sendiri lagi..” Sore ini aku berjalan sendirian di koridor sekolah yang selalu sepi. Aku berniat ke perpustakaan karena ingin mengerjakan tugas dari guru kimia. Gusenda dan Nadia tidak bisa menemaniku karena mereka kelihatan sangat lelah, jadilah mereka memilih istirahat sekarang. Sementara Tri dan Rizky tidak tampak sejak pelajaran Mrs. Caca berakhir. Untung saja Nadia tidak marah lagi, dengan susah payah aku dan Gusenda membujuknya untuk tidak membenci guru tersebut. Ya, aku tahu ketika mendengat kata kata beliau dia sangat syok. Lagi pula siapa yang tidak terkejut dengan kalimat tersebut. Terlebih dengan diriku.
“Raja…”
Bagus sekali, sepertinya aku diteror suara aneh lagi. Memang pelan, tapi terdengar jelas ditelinga. Aku tidak mendengar. Aku tidak mendengar. Bisikku dalam hati.
“Raja, dengarkan aku..”
Rasanya aku tahu pemilik suara itu. Siapa, ya? Seseorang berdiri di depan sana. Sebelah tangannya mengajak untuk mengikutinya.
Tiba-tiba saja aku merasa dikendalikan. Aku berjalan mengikuti orang itu, dia menuntunku ke lorong yang lebih sepi.
Ketika sampai, aku dibohongi. Sekarang aku sendirian. “Sebenarnya kamu siapa? Aku tidak main-main!” ujarku. Aku bisa mendengar suara menggema. Seseorang memegang pundakku, terasa dingin, apa jangan-jangan… Aku tersentak.
Ketika ingin berteriak, tangan itu mendekap mulutku.
“Jangan berisik..” Aku mundur beberapa langkah. “Kenapa bisa?” Sosok itu tersenyum kepadaku, aku kenal dia.
“Aku yang memanggilmu selama ini. Aku juga yang mengikutimu sampai sini” Aku heran, sebenarnya ada rasa takut.
“Bagaimana bisa? Padahal aku telah menolongmu.” Tidak disangka-sangka, Lysa yang selama ini menerorku. Kenapa dia kembali menghantuiku? Aku kira dia sudah tenang di alam sana dan tidak mengganggu lagi. Rupanya dia kembali lagi dengan suara yang mengerikan.
“Aku kesini karena satu hal.” Kami bertatapan.
“Ada apa?”
“Ini semua berkaitan dengan dirimu, Raja. Ini berkaitan dengan dia…”
“Siapa dia?” Lysa menunjukkan mata tajamnya.
“Dia yang jahat, penuh rasa benci. Hentikan dia sebelum semuanya kacau!”
Hei! Tapi, aku bisa apa sekarang? Aku tidak mengetahui siapa yang kamu maksud. Eh, entah mataku yang salah atau apa, tapi baru saja aku melihat tubuh Lysa memudar. Seperti akan menghilang. “Raja… waktuku tidak banyak…” ujarnya kepadaku.
“Dia ada di suatu tempat di sekolah ini. Kalian… harus… hati-hati… dia… akan melakukan…” Suara Lysa terputus-putus. “Malam ini… Ra…”
Hening.
Sudah pukul 2 malam dan mataku sudah berat, diluar sana hujan masih mengguyur.
Ketika seorang siswa laki-laki itu membawaku, acara makan telah berakhir. Satu hal yang masih membuatku bingung. Siapa wanita mengerikan yang dimaksud? Aku menjatuhkan diri.
Tiba-tiba music yang kudengar berganti sendiri. “Reverse”. Kok? Intrumen dari lagu ini menyeramkan.
Aku tidak suka “Reverse” sebab aku merasa instrument tersebut pertanda buruk. Apalagi sekarang sudah malam. Aku mematikan musik. Napasku berpacu. Diluar sana anjing melolong, mataku sudah tidak tahan lagi. Beberapa detik setelah itu mataku tertutup, entah kenapa atau mungkin hanya perasaanku saja, aku mendengar seseorang bernyanyi.
****
Laki-laki itu berdiri didepan sebuah rumah. Kabut putih menyebar, menutupi seluruh bagian sehingga tampak hanyalah atap dan cerobong asap.
Rumah yang sederhana, tetapi menyeramkan. Bulan purnama bersinar terang.
Dia berjalan menuju pintu rumah itu, diatas rating pohong burung hantu berbunyi. Setiap nada membuat detak jantungnya berpacu.
KREEEKKKK! Dia membuka pintu.
Gelap, berdebu, dan kotor adalah kesan pertama yang dia temukan. Dia menyapa ke dalam rumah. Hanya gema yang terdengar, bahkan terdengar seram. Mencoba melangkah lebih dalam.
Alhasil, dia menemukan sebuah meja using dengan sofa di sampingnya. Sayang, tempat itu sangat gelap. Hal pertama yang menimbulkan perhatian adalah kobaran api dari lilin.
Laki-laki itu mengambil sebatang lilin, kemudian memeriksa isi rumah.
Deg! Laki-laki itu berhenti. Matanya terbelalak, dia melihat sesuatu. Seseorang sedang menikmati ayunan kursi goyang. Namun, itu tidak berlangsung lama.
Akhirnya dia menyadari ada sosok laki-laki sedang menatapnya. Ini tidak mungkin! Orang itu… orang yang duduk di kursi goyang itu… adalah dirinya sendiri.
Mengapa? Cahaya lilin menyorot sesuatu yang lain. Seorang anak perempuan kecil sedang bermain dengan boneka. Dia berdiri disamping orang yang duduk di kursi goyang.
“Katakan selamat datang,” ujarnya kepada boneka yang digendongnya.
Laki-laki tersebut bisa melihat bagaimana kepala boneka berputar 360 derajat dan tersenyum kepadanya sambil mengatakan, “Halo?” Laki-laki diam di tempat.
Kakinya seolah di tancap paku tak terlihat. Napasnya memburu.
“Mom, ada tamu berkunjung kerumah kita.”
“Tunggu, aku akan kesana” ujar wanita tua menggema.
“Bilang halo kepada Mommy..” Apa yang terjadi sebenarnya? Laki-laki itu tampak cemas. Ketakutan membuncah di dadanya. Dia tidak melihat kehadiran ibu dari anak perempuan tersebut.
“Ada seseorang dibelakangmu!” Jantung seolah berhenti berdetak. Dia ketakutan. Perlahan dia memutar kepala. Alhasil… dia shock!
Mulutnya tidak bisa ditutup. Dibelakangnya, anak kecil itu tertawa bersama boneka karena lak-laki itu baru saja melihat… … seorang gadis tergantung dengan tali kasar melilit lehernya, lidahnya menjulur keluar, tubuhnya mebiru. Sedetik kemudian.. mata itu.. berkedip.
PRAK!
Laki-laki itu berlari menuju pintu. Dia sangat ketakutan. Makhluk-makhluk itu serasa mengejar. Dia menggedor pintu yang tertutup secara mendadak. Berteriak berharap ada orang yang mendengar. Dirinya yang duduk di kursi goyang mendadak berkata, “percuma saja, tidak ada yang bisa mendengarkanmu, meskipun kamu berteriak sampai urat lehermu putus!”
****
DUAAARRR! Petir membangunkanku dari mimpi buruk. Tadi itu sangat aneh, baru kali ini aku memimpikan hal-hal aneh seperti ini, bahkan di tempat tinggal lamaku, aku tidak pernah bermimpi buruk. Apa mungkin ini pertanda buruk? Ichwan pernah bilang, kalau kejadian menyedihkan telah dimulai. Apakah mimpi buruk ini adalah permulaannya?
Tap.. Tap.. Tap.. Terdengar langkah mendekat. Makin lama suara langkah kian terus mendekat. Mungkin penjaga yang sedang memeriksa atau bisa saja siswa baru saja keluar kamar untuk ke toilet. Tidak hanya berpikir, aku kembali berbaring dan merentangkan selimut.
****
Sinar mentari masuk melalui celah-celah fentilasi. Aku terbangun karena kicauan burung. Aku melirik jam dinding. Jarum pendek menunjukkan angka tujuh.
Sialan! Aku terlambat.
“Raja, cepatlah bangun!” Gusenda memekik dari luar kamar. “Aku sudah bangun, kok” jawabku. Gara-gara mimpi itu aku jadi telat. Menyebalkan!
“Cepatlah mandi. Sekarang kita akan belajar dengan Mrs. Jane. Kamu bakal dihanguskan jika terlambat!”
Argh! “Iya, tunggu sebentar. Aku lagi kacau.”
“Buka pintu dulu. Aku sudah seperti orang gila karena berteriak-teriak.” Aku membukakan pintu untuk Gusenda. “Yaampun, apa yang terjadi denganmu?” dia menggeleng-geleng karena melihat tampangku kusut sekali.
“Habis terkena bencana.” Ujarku singkat. “Oh ya, apa yang terjadi padamu kemarin malam? Kamu terlihat kebingungan dan takut?” TIDAK! Aku berteriak dalam hati. Jangan ungkit-ungkit masalah itu sekarang.
“Nanti saja aku bilang padamu.”
“Baiklah.”
“Gusenda, Raja, kalian melihat buku tugasku tidak?” Tanya Tri dengan tiba-tiba. Apalagi ini? Gusenda mendesakku cepat-cepat, sedangkan Tri malah menanyakan tugasnya yang hilang. Hal yang aku butuhkan sekarang hanya mandi dang anti seragam.
“Tadi malam aku meletakkan di dekat meja kamu!”
“Aku tidak tahu bukumu itu. Palingan diambil teman akrabmu.”
“Jangan salahkan Rizky.” Seketika aku berteriak. Gusenda dan Tri melongo. “Permisi sebentar, aku mau mandi.”
****
“Mrs. Caca bisa dibilang peramal yang andal. Dari sejarah hidupnya yang kubaca, beliau bisa meramal suatu kejadian menggunakan benda. Beliau juga bisa meramal kita, lho.” Nadia berbicara saat kami berjalan di koridor.
“Aku ingin diramal guru itu.” Ujar Tri.
“Aku pernah baca kalau Mrs. Caca bisa meramal pertanda buruk yang akan menimpa.”
“Berarti Mrs. Caca bisa meramal hal yang akan menimpa sekolah ini, dong?” Nadia mengangguk. “Kemungkinan besarnya begitu, tapi aku tidak tahu pasti apakah itu benar.” Aku tidak berbicara sepatah kata pun, pembicaraan mereka mengingatkanku pada kejadian kemarin malam yang hampir membuatku pingsan. Aku mengalihkan pandangan, di antara kerumunan anak perempuan, ada satu yang tampak berbeda. Pakaian perempuan itu sangat berbeda dari temannya. Ketika yang lain tertawa, dia hanya diam dengan tampang datar.
Eh, rasanya aku tahu deh, pakaian yang dikenakan itu. Oh iya, itu kan….
“Raja, kenapa diam? Ada masalah ya?” Tanya Tri. Aku menatapnya kaget.
“Oh, tidak, aku hanya memperhatikan kerumunan perempuan itu” ujarku lalu tersenyum.
“Oh.. aku tahu. Kamu menyukai salah satunya, ya?” tebak Gusenda. Aku memukul tangannya. “Heh, bukan itu maksudku!”
“Masa segitu aja marah, sih.”
“Aku tidak marah, kok”
Ternyata kami termasuk siswa yang datang agak terlambat, soalnya semua meja telah diisi. Ruangan Mrs. Caca berbeda dengan ruang-ruang guru lainnya, disini tidak ada kursi, hanya ada meja dengan bola Kristal di tengahnya dengan cangkir-cangkir di sekeliling bola. Itu berarti kami akan dikelompokkan. Satu meja hanya bisa menampung maksimal 3 orang. Jadi, Tri dan Rizky tidak bersamaku.
“Sudah siap untuk belajar?”
“Siap Mrs. Caca”
Mrs. Caca, guru dengan kacamata berlensa tebal, rambutnya pirang panjang dan lurus. Banyak kalung yang terpasang di leher Mrs. Caca dengan cincin dan kalung juga yang tidak kalah banyak. Memang seperti peramal sungguhan. Seseorang siswa bernama Faisal mengangkat tangan.
“Mrs, hari ini apa yang kita pelajari?”
“It’s simple. Kita akan meramal pertanda dengan menggunakan cangkir. Di meja kalian sudah ada tiga cangkir. Setiap cangkir berbeda-beda,” jelas Mrs. Caca. “Ada yang ingin bertanya lagi?”
Siswa lain mengangkat tangan lagi. “Mrs. Caca, aku penasaran bagaimana nasib sekolah ini, maksudku apakah ada pertanda-pertanda tentang sekolah ini?” Pertanyaan siswa itu membuat Mrs. Caca diam.
Aku tahu kalau ekspresi itu menunjukan kekhawatiran.
“Untuk sekarang tidak ada” jawab Mrs. Caca. “Baiklah, sekarang kita mulai pelajaran.”
Aku yakin Mrs. Caca menyembunyikan sesuatu dari kita semua soal sekolah ini, untuk pertama kalinya aku melihat Ichwan duduk bersama orang lain. Hanya saja mereka tidak berinteraksi. Maksudnya hanya Ichwan saja. Mereka berdua tetap berkomunikasi dan tidak menghiraukan kehadiran Ichwan disamping mereka.
Mrs. Caca melihat cangkir satu per satu, aku bingung, terkadang Mrs. Caca berkata “kamu akan diberikan kejutan special”, “kamu akan mendapat hal buruk”, “Oh, Nothing”.
Mrs. Caca berhenti sejenak melihat cangkir Nadia, anak itu pasti berpikir akan diramal yang baik-baik. Nyatanya, Mrs. Caca menunjukkan ekspresi kekhawatiran.
“Kamu sedang tidak beruntung, jangan sendirian di koridor saat malam tiba. Sesuatu yang jahat.. akan menarikmu. Membawamu kedalam kegelapan…”
Mendengar hal itu, Nadia syok. Seketika Nadia berdiri, lalu membuang cangkir itu kelantai, lalu pergi keluar. Mrs. Caca tersentak,
“Kenapa? Apakah aku salah bicara?” Aku dan Gusenda berpandangan, kami kemudian mengangkat bahu, sekarang giliranku.aku memberikan cangkirku itu ke Mrs. Caca dan dia tersentak. Dia terkejut dengan isi cangkirku, kami semua bingung, kecuali Ichwan. Tentu saja.
“Oh, my dear… masalahmu sungguh rumit, sangat buruk.. ini melambangkan Grim..”
“Apa itu Grim?” “Ada yang bisa bantu menjelaskan?”
Seseorang anak perempuan membuka buku dan membacanya. “Grim adalah lambing kematian. Biasanya yang mendapat lambing ini akan mendapat pertanda buruk yang biasanya mengarah pada kematian. Berhati-hatilah.. karena ini sangat berbahaya..”
Aku hanya diam, begitu juga yang lain termasuk Mrs. Caca, dia menatapku seolah menunjukan rasa kasihan. Hanya ada satu orang yang tampak berbeda. Ichwan.
****
“Sendiri lagi..” Sore ini aku berjalan sendirian di koridor sekolah yang selalu sepi. Aku berniat ke perpustakaan karena ingin mengerjakan tugas dari guru kimia. Gusenda dan Nadia tidak bisa menemaniku karena mereka kelihatan sangat lelah, jadilah mereka memilih istirahat sekarang. Sementara Tri dan Rizky tidak tampak sejak pelajaran Mrs. Caca berakhir. Untung saja Nadia tidak marah lagi, dengan susah payah aku dan Gusenda membujuknya untuk tidak membenci guru tersebut. Ya, aku tahu ketika mendengat kata kata beliau dia sangat syok. Lagi pula siapa yang tidak terkejut dengan kalimat tersebut. Terlebih dengan diriku.
“Raja…”
Bagus sekali, sepertinya aku diteror suara aneh lagi. Memang pelan, tapi terdengar jelas ditelinga. Aku tidak mendengar. Aku tidak mendengar. Bisikku dalam hati.
“Raja, dengarkan aku..”
Rasanya aku tahu pemilik suara itu. Siapa, ya? Seseorang berdiri di depan sana. Sebelah tangannya mengajak untuk mengikutinya.
Tiba-tiba saja aku merasa dikendalikan. Aku berjalan mengikuti orang itu, dia menuntunku ke lorong yang lebih sepi.
Ketika sampai, aku dibohongi. Sekarang aku sendirian. “Sebenarnya kamu siapa? Aku tidak main-main!” ujarku. Aku bisa mendengar suara menggema. Seseorang memegang pundakku, terasa dingin, apa jangan-jangan… Aku tersentak.
Ketika ingin berteriak, tangan itu mendekap mulutku.
“Jangan berisik..” Aku mundur beberapa langkah. “Kenapa bisa?” Sosok itu tersenyum kepadaku, aku kenal dia.
“Aku yang memanggilmu selama ini. Aku juga yang mengikutimu sampai sini” Aku heran, sebenarnya ada rasa takut.
“Bagaimana bisa? Padahal aku telah menolongmu.” Tidak disangka-sangka, Lysa yang selama ini menerorku. Kenapa dia kembali menghantuiku? Aku kira dia sudah tenang di alam sana dan tidak mengganggu lagi. Rupanya dia kembali lagi dengan suara yang mengerikan.
“Aku kesini karena satu hal.” Kami bertatapan.
“Ada apa?”
“Ini semua berkaitan dengan dirimu, Raja. Ini berkaitan dengan dia…”
“Siapa dia?” Lysa menunjukkan mata tajamnya.
“Dia yang jahat, penuh rasa benci. Hentikan dia sebelum semuanya kacau!”
Hei! Tapi, aku bisa apa sekarang? Aku tidak mengetahui siapa yang kamu maksud. Eh, entah mataku yang salah atau apa, tapi baru saja aku melihat tubuh Lysa memudar. Seperti akan menghilang. “Raja… waktuku tidak banyak…” ujarnya kepadaku.
“Dia ada di suatu tempat di sekolah ini. Kalian… harus… hati-hati… dia… akan melakukan…” Suara Lysa terputus-putus. “Malam ini… Ra…”
Hening.
0 Response to "Dibalik keberadaannya. Tersangka! (Jilid 4)"
Post a Comment