Dibalik keberadaannya. Suara aneh itu (Terusan jilid 3)

Aku mengetuk pintunya. “Ada orang di dalam?” Kenapa selalu diam, sih? Sekarang aku memutar knop pintunya dan tanpa disangka pintunya terbuka.
“Ini kamar Siswa!” kataku setelah melihat isi kamar begitu rapi. “Kamar siapa ini?”
“Hah?” Aku tersentak kaget. Ada orang disini, tapi dimana?
“Raja, ada apa ke kamarku?” suara Ichwan membuatku jantungan. Dia selalu seperti itu.
“Ah.. Ichwan! Ini kamarmu?” tanyaku seolah tidak percaya. Ichwan mengangguk cepat, dia menatapku tajam. “Benar, mungkin kamu heran, kenapa kamarku begitu buruk bukan?”
Dari mana dia tahu aku akan menyakan hal itu? “aku sudah mengetahuinya, kok” balas Ichwan. Aku tercekat, apakah dia bisa membaca pikiran? Apakah dia sama seperti Yaya? Dia makin misterius saja. “Ya, itu karena tidak ada yang betah se-kamar denganku.”
“Kenapa?” tanyaku Ichwan berjalan kearah jendela. Menatap sesuatu di bawah sana.
“Karena sifatku, aku terlalu dingin dan menyeramkan. Mungkin kamu juga akan sama seperti mereka.” Aku menggeleng, Ichwan salah besar. Malah aku pernah sekamar dengan Yaya, nyatanya aku baik-baik saja. Aku kagum dengan Ichwan, semua tertata rapi, ada sesuatu yang terletak di kasur Ichwan. Sebuah boneka laki-laki. Aku mengambilnya. “Apakah kamu tidak benci dengan boneka?” tanyanya kepadaku.
“Eng.. tidak, hanya saja aku taku jika menatap matanya.” Dia mendekatiku. Mengambil boneka ini. “Sebenarnya aku benci semua boneka, kecuali boneka ini. Sebagian orang pasti menganggap boneka ini menyeramkan. Mereka tidak salah. Kamu lihat mata boneka ini, mengisyaratkan kehampaan.” Jelasnya kemudian meletekkan boneka kembali ke kasur. Aku duduk di kasur Ichwan.
“Emm.. kamu barusan bilang kalau kamu tidak benci boneka ini, kenapa?” Dia diam. Agak lama menjawab. “Karena boneka ini…” Ichwan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Aku rasa ada kenangan menyedihkan dengan boneka ini. “Maaf jika membuatmu sedih.” Dia tersenyum kecil.
Kemudian, pandangannya tiba-tiba tetuju kearah pintu. Aku melihat Ichwan menatap tajam kearah sana. Tidak ada siapa-siapa disana, lalu kenapa Ichwan bertingkah seolah ada seseorang yang mengintip.
“Ichwan, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa” ujar Ichwan. Dia menyembunyikan sesuatu. Ichwan kembali ke jendela. Melihat ke bawah lagi. Memangnya ada apa dibawah sana, sehingga dia betah melihat ke bawah?
Aku melirik jam tangan. Sudah pukul lima lewat.
“Oh ya, kamu datang ke acara makan bersama nanti malam?” Ichwan menggeleng. “Aku tidak akan datang. Aku lebih memilih di kamar daripada menghadirinya.” Belum sempat aku bertanya kenapa, Ichwan sudah menjawabnya.
“Karena tidak ada yang peduli denganku, mereka menganggapku seolah tidak ada.” Raut wajah Ichwan berubah sedih. Salah satu faktornya adalah karena Ichwan dingin dan tertutup.
“Baiklah, Ichwan. Aku akan ke kamar sekarang.” Ujarku. Ichwan mengangguk, tapi tidak menatapku. Persis seperti Yaya, ujarku dalam hati. Ah, bagaimana keadaan sekarang. Aku rasa dia kembali jadi aneh dan menakuti siswa lain dengan kemampuannya.
“Raja” panggil Ichwan. Aku menoleh ke belakang. Menatapnya sambil memberikan tatapan bertanya.
“Kamu kesini dengan siapa?”
“Aku pergi bersama Ibuku, Ichwan.” Aneh. Kenapa Ichwan menanyakan hal itu padaku.
“Yakin hanya itu saja?” Tanyanya lagi, kali ini tampak serius. Aku menggeleng pasti.
“Tidak ada, hanya aku saja yang sekolah disini”ujarku.
“Memangnya kenapa Ichwan?” Ichwan tersenyum kecil.
“ Gadis itu mengikutimu, Raja. Tanpa kamu sadari, dia selalu mengikutimu kemanapun kamu pergi. Tenang saja, dia tidak jahat. Dia hanya memberi tahumu satu hal.”
Deg! Apa aku tidak salah dengar? Jantungku kembali berdetak hebat. Kulihat Ichwan tersenyum aneh. Aku melirik ke seluruh penjuru. Bulu kudukku terasa berdiri. Siapa?
****
Aku tidak terlalu banyak bicara saat jamuan makan malam, pikiranku masih dipenuhi kata-kata Ichwan tadi.
Siapa yang mengikutiku sampai sini? Seseorang tolong beri tahu aku!
Semua orang tampak senang sekali. Bagaimana tidak, makanannya enak-enak semua dan lebih banyak. Aku duduk bersama Gusenda dan Nadia. Bukan hanya mereka berdua, tadi aku dikenalkan kepada dua orang teman sekamar Gusenda. Nama mereka Rizky dan Tri. Aku langsung mengetahui diri mereka langsung, Rizky sangat mudah bergaul dan terlihat ceria, sementara Tri dia terlihat diam sejak tadi, dan sedikit tersenyum.
“Asal kamu tahu, Tri hanya diluar saja seperti ini. Jika datang ke kamarku, kamu akan melihat sifat aslinya.” Rizky mengoceh, kemudian mencicipi makanan dihadapannya. Tri menyenggol bahunya sambil melotot. “Hanya bercanda.” Aku dan Nadia tersenyum.
“Kamu sendirian di kamar?” Gusenda membuka percakapan.
“Benar. Awalnya aku ada teman dikamar, tapi mereka kabur. Ya, jadinya sendiri dikamar.”
“Apa kamu tidak merasa aneh sendirian di kamar?” Tanya Rizky kepadaku. Aku menyeruput minumanku. “Sedikit, tapi sebentar lagi akan terbiasa.” Kemudian lonceng berbunyi. Semua menghentikan aktifitas. Ada apa? Oh, ternyata didepan sana kepala sekolah akan memberi pengarahan.
“Terima kasih kalian sudah menghadiri acara ini. Apakah kalian senang? Tentu saja. Koki kita sangat pandai memasak.” Kepala sekolah melirik seorang wanita tua berkacamata. “Tidak lupa kita ucapkan selamat datang kepada siswa yang baru bergabung disini. Semoga kalian nyaman dan dapat mengikuti pelajaran serta kegiatan dengan baik.” Kemudian pengarahan dilanjutkan oleh Mr.Yuki. Aku memperhatikan seluruh sisi ruangan. Dari tadi aku tidak melihat kehadiran Ichwan. Dia benar-benar tidak mengikuti acara ini. Padahal sebentar lagi Mr. Yuki akan mengecek kehadiran siswa. Aku berkata kepada temanku kalau ingin ke toilet.
Ya, itu hanya akal-akalan. Sebenarnya aku ingin membawa Ichwan ke sini untuk mengenalkannya kepada Gusenda, Nadia, Rizky, dan Tri.
“Jangan terlalu lama. Nanti namamu akan terlewat” ujar Nadia kepadaku. Aku mengangguk. Sekarang, aku telah berada di lorong. Seram sekali dan sangat sepi. Tentu saja karena tidak ada siapa-siapa di tempat ini selain ruang makan. Cahaya lilin berkedip dan berayun ditiup angin. Aku melihat jendela. Di luar sana hujan mengguyur. Bernyanyi kecil adalah hal yang aku lakukan saat-saat begini. TRAP! TRAP!
Seseorang melangkah. Aku menoleh ke belakang. Masih kosong dan gelap. Hanya ruang makan yang bercahaya. Dan juga tidak ada siswa yang keluar dari ruang itu. Aku tidak menghiraukan. Aku berbelok kearah kiri.
“Raja..”
Aku mempercepat langkah. Siapa yang memanggil? Kudengar seseorang mengikuti dari belakang, dari ekor mata aku melihat sesosok tubuh berjalan. Aku memutar kepala.
Kosong. Jangan main-main!
Waktumu tinggal sedikit…”
Jangan-jangan pemilik suara itu yang selalu mengikutiku? Namun, siapa gadis itu? Petir dan kilat bemunculan memberikan sensasi mengerikan. Di sini gelap.
Wuss…
Aku merasa sesuatu baru saja melewatiku.
“Teror akan terulang kembali. Setiap malam salah satu dari mereka akan hilang…”
Suara itu begitu jelas ditelingaku. Rasanya ada orang lain bersamaku ditempat ini dan membisikkannya ke telinga. Hentikan! Aku berlari menaiki tangga menuju lantai tiga.
Raja, dengankan aku!”
Kenapa suara itu selalu mengikutiku? Apakah dia Lysa? Tidak mungkin! Aku telah membantu masalahnya dan dia sudah tenang di alam sana.
DUAAAARRRR!
Petir datang lagi dan kali ini lebih keras. Suara hujan juga terdengar sampai sini. Aku berdiri, entah apa yang kulakukan. Tapi, di ujung sana aku melihat seseorang. Tidak jelas… dia memakai gaun panjang sampai kaki. Ketika kilat menyambar lagi sosok itu hilang. Aku berlari ke kamar Ichwan. Terkunci. Aku menggedor sambil memanggil namanya. Dia tidak ada dikamar.
Tes!
Sesuatu mengenai wajahku. Cairan terasa lengket. Aku memegang pipiku, dan… DARAH!
“Hah?” Secepat mungkin aku berlari dari sana. Tidak berani melihat ke atas.
Perasaanku mengatakan sesuatu yang buruk sedang berada di langit-langit lorong. Makanya aku berlari ke kamar mandi untuk membersihkan bekas darah yang menempel di wajah. Aku lemas ketika sampai di toilet. Otot-otot di tubuh terasa lemah dan tulangku serasa rapuh. Toilet seram sekali. Dengan segenap keberanian aku masuk kedalam dan membersihkan bekas darah. Kok, bisa ada darah? Aku bingung-bingung sendiri. Ditengah kebingungan sesuatu berbisik ”Marilyn… Marilyn... Marilyn…” Aku tersentak kaget.
Jangan dulu! Angin dingin datang membelai tubuh. Sesuatu seperti sedang mendekat. Aku merinding.
“Ichwan, kamukan itu?” Tidak ada yang menjawab. Bunyi tetesan air menambah suasana seram.
Aku telah selesai dengan urusanku. Tapi, kenapa aku merasa dibuntuti lagi?
“Raja…”
“Gusenda, bilang kalau itu adalah kamu.”
“Aku.. bukan.. Gusenda..”
DUAAARRR!
Hah? Apa itu yang melayang? Aku mengucek mata. Tadi, aku melihat sesuatu melayang di toilet. Ketika aku melihat lagi, tidak ada apa-apa. Aku ketakutan.
KREEEKKKK!
Pintu terbuka, spontan aku membalikkan tubuh. Di ambang pintu, seseorang berdiri. Aku tahu siapa orang itu, Ichwan berdiri diam dengan tatapan tajam seolah mengintimidasi. Dia tersenyum.
“Kamu melihatnya sendiri bukan? Kamu dihantui keanehan. Suara itu menerormu!” Aku mulai merasa Ichwan sangat menakutkan. “Kejadian menyedihkan.. akan dimulai sebentar lagi,” dia berbicara.
“Ichwan, katakana siapa yang mengikutiku?” tanyaku memohon.
“Kamu akan tahu, Raja Algifari.” Setelah mengucapkan kalimat itu dia pergi menuju lantai tiga. “Aaarrrgghhh!” Terdengar suara teriakan. Itu.. itu suara teriakan siswa.
****
Aku meyusuri asal suara. Sumbernya terdengar dari lantai tiga. Itu.kan.tempat aku melihat… Desahan napas muncul. Aku terhenti. Seseorang mendekat. Kegelapan menutupi bentuk tubuhnya. Aku menyipitkan mata, aku menemukan seseorang siswa dengan wajah ketakutan. Dia memegang tanganku.
“Ada apa?”
“Jangan kesana. Wanita itu mengerikan. Aku tidak ingin dia melukai kamu.” Aku tidak bisa berkata-kata. Laki-laki itu menarikku pergi. Aku membiarkan diriku terbawa.
Tunggu sebentar! Ichwan baru saja pergi kelantai tiga. Itu berarti… Oh, tidak!



 

1 Response to "Dibalik keberadaannya. Suara aneh itu (Terusan jilid 3)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel