Dibalik keberadaannya. Ah, hanya sebuah boneka (Jilid 5)

Hujan mengguyur dan aku harus meninggalkan teman-teman karena urusan penting. Tujuanku sekarang adalah ruangan Mrs. Caca. aku akan menanyakan beberapa hal. sekolah tampak seram saat hujan-hujan begini. Aku melangkah cepat ketika melewati lorong sepi.
Aku menaiki tangga menuju ruangan Mrs. Caca yang berada di lantai atas. Rupanya ada dua orang siswa yang sedang duduk disana. Mereka melihatku sebentar lalu kembali dalam perbincangan yang tampak asyik.
"Kamu tahu tidak apa yang terjadi pada Diki ketika jamuan makan malam?" ujar siswa bermata sipit. Aku rasa dia berasal dari China.
Temannya menggeleng. "Memang ada apa dengannya?"
"Dia sangat ketakutan dan trauma."
Sejujurnya aku tidak berniat menguping. Tapi, pembicaraan mereka ada kaitannya dengan wanita itu. aku berhenti, berpura-pura ikatan tali sepatuku lepas. Untung saja mereka tidak menyadari aku menguping.
"Dia melihat sosok wanita tua mengerikan. Aku tidak tahu detailnya. Tapi yang aku dengar dari Diki, wanita itu bergaun hitam penuh darah. Menyeramkan sekali."
"Memangnya ada yang seperti itu di sekolah ini?"
Si mata sipit menggeleng. "Aku tidak tahu."
Jadi laki-laki yang mencegahku kemarin bernama Diki. Kemarin aku belum sempat berterimakasih karena masih dalam keadaan kacau dan bingung. Aku dengar mereka berdua mengalihkan topik pembicaraan. Segera aku pergi ke ruangan Mrs. Caca. Ternyata pintunya tidak dikunci. Dengan langkah pelan aku masuk ke dalam.
"Mrs. Caca?" panggilku pelan.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan di ruangan ini. Mungkin Mrs. Caca sedang pergi dan lupa mengunci pintunya. Isi dalam bola kristal itu bergerak-gerak. Mengundang perhatianku untuk melihatnya, aku melihat dari dekat, ada sesuatu yang terbentuk di dalam bola kristal. Seperti wajah, tapi tidak jelas. Aku mendekatkan wajah.
"Raja?"
Aku tersentak kaget. Mrs. Caca ternyata.
"Ada apa datang kesini?" Mrs. caca bertanya dengan mengkerutkan kening.
"Emm.. aku hanya ingin menanyakan beberapa hal."
"Hal apa yang ingin kamu tanyakan?" Mrs. Caca berjalan menuju mejanya. Duduk dasana sambil menatapku.
"Aku penasaran dengan lambang grim yang aku dapatkan" jelasku. "Aku selalu diteror hal-hal aneh, Mrs. Caca. Itu sebenarnya ada apa?"
Mrs. Caca diam. "Nak, itu berkaitan rahasia yang tersimpan di sekolah ini."
Aku bingung. "Rahasia apa?"
Hening. Mrs. Caca menatapku lama sekali. Ada apa lagi? Apa ada seseorang dibelakangku. Ketika aku menengok tidak ada siapa-siapa. Kemudian aku mendengar Mrs. Caca membaca seperti sebuah mantra. "She will return tonight. And death come in the crippling silence. She come to the people and slowly take them away, once more!"
Aku tidak bisa berkata-kata, tubuhku seolah membeku. Keringatku bermunculan. Apa yang berusan dikatakan Mrs. Caca? Apa yang akan dilakukan wanita itu? Mrs. Caca tersentak tiba-tiba dan menatapku ketakutan.
"Ada apa denganmu? kenapa kamu terlihat begitu ketakutan? Apa Mrs. baru saja mengatakan sesuatu yang salah?" Tanya Mrs. Caca.
Aku menggeleng. "Tidak, Mrs. Caca. Terimakasih untuk bantuan Mrs. Aku pamit dulu."
"Oh, baiklah.."
Tadi itu sangat menyeramkan. Bahkan Mrs. Caca mendadak aneh ketika aku menanyakan tentang hal itu. Satu hal yang pasti, aku sudah mendapatkan satu petunjuk. Rahasia yang tersimpan di sekolah ini. Rahasia yang berkaitan dengan wanita itu.
****
"Asti, tunggu aku!" panggil siswa berambut pendek.
"Kamu selalu lambat, Mega."
Mega memutar kedua bola matanya kemudian berlari menghampiri Asti. "Ada yang bilang, besok kita tidak belajar dengan Mrs. Ariana, Aku dengar dia terkena Tifus."
Asti mengangkat bahu. "Berharap saja seperti itu. Lagi pula tugas dari guru Geografi banyaknya segunung. Sepertinya aku bakal tidak tidur semalaman."
Senja menjemput malam. Lorong telah gelap, tapi masih ada siswa yang beraktivitas. Tangga yang menghubungkan lantai dua dengan kamar perempuan telah tampak dari depan. Angin berhembus lembut. Mega menatap Asti.
"Ada apa? tanya Asti dengan heran
Mega menggeleng. "Aku merasa ada yang aneh di sekitar kita."
Asti memutar matanya. "Oh Mega, kamu kebanyakan baca kisah hantu."
Mega melihat ke belakang. Kemudian memegang lehernya. "Aku tidak bohong. Aku merasa kita sedang di awasi."
"JANGAN MEMBUATKU TAKUT!"
Mereka menaiki tangga beton pelan-pelan. Mega menelan ludah, Asti juga begitu. Mereka tampak ketakutan terlihat dari wajah mereka yang sangat cemas.
BRUK!
Langkah mereka terhenti. Mega memandang Asti lagi. "Apa itu?" bisiknya pelan, tapi masih bisa didengar.
Perempuan berkulit cokelat itu menggeleng. "Ayo, kita lihat saja."
Serentak kedua perempuan itu menoleh ke belakang. Lalu mereka membuang nafas lega.
"Hanya sebuah boneka." ujar Mega.
"Perasaan, tadi kita engga melihat boneka ini, deh" Asti menimpali.
Mega mendekati boneka anak perempuan kecil bergaun yang terletak di koridor. "Kamu tahu, aku takut sekali menatap wajah boneka ini," Ujar Mega.
"Aduh Mega jangan banyak omong. Segera ambil boneka itu dan kita pergi dari sini."
"Aku tahu, nyonya!"
Mega menggerutu sambil mengambil boneka dan menggendongnya. Boneka yang cantik sebenarnya, sayang  kusut sekali. "Siapa sih, pemilih boneka ini?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Yang pasti orang itu sangat tidak peduli."
Mega dan Asti menatap boneka itu.
"Susan, katakan 'halo' kepada mereka!"
Suara anak perempuan berhasil membuat Mega dan Asti terkejut. Mereka menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Sekarang, Asti benar-benar ketakutan.
"Kamu dengar apa yang barusan suara itu bilang?"
Mega mengangguk. "Jangan-jangan..."
Kedua pasang mata itu berangsur melihat boneka yang di gendong. Tidak terjadi apa apa...sampai...sampai...mata...besar itu berkedip. "Halo..."
"AAAAAAAA...!"
Boneka itu terjatuh seketika. Kedua anak perempuan itu berlari menaiki tangga. Terdengar tawa menggelegar yang tidak tahu berasal darimana. Mereka dihajar dengan ketakutan.
Tidak sengaja Mega melihat ke arah tangga, tepat ke arah boneka itu terjatuh. Kali ini dia melihat yang lain.
Wanita itu baru saja berdiri disana sambil menyeringai.
****
"Raja, kamu boleh ke kamar sekarang. Ini waktunya tutup." penjaga perpustakaan, Mrs. Sasha, menyuruhku segera keluar.
"Tugasku masih belu selesai, Mrs. Sasha" protesku.
"Sekarang hampir pukul delapan, aku akan menutup perpustakaannya" katanya lagi. Dia mengambil kunci dari laci meja dan berjalan menuju pintu.
"Berilah aku waktu sebentar lagi" aku memohon.
Dia menghela napas. "Baiklah, aku tinggalkan kunci disini. Nanti kamu antar ke rumahku. Kamu tahu rumahku, kan?"
Aku mengangguk. Rumah Mrs. Sasha berada di samping sekolah. Sebuah rumah kecil sederhana dengan cerobong asap yang mengepul setiap waktu. "Jangan lupa kunci pintunya nanti. Ya sudah, aku istirahat dulu."
Langkah kaki Mrs. Sasha tidak terdengar lagi olehku.
Sunyi.
Aku berdiri dan mengunci pintu perpustakaan. Ya, sebenarnya untuk menjaga-jaga saja. Siapa tahu ada sesuatu yang jahat masuk kedalam sini dan menggangguku.
Aku menarik napas, tugas ini belum selesai-selesai juga. Masih ada dua bab lagi untuk menyelesaikannya. Tugas dari Madam Hanafi yang menyebalkan. Aku meletakkan pena, aku sudah letih mencatat isi buku yang tebal. "Lebih baik aku mencari buku-buku untuk dibaca," gumamku sendiri.
Aku menggeser kursi. Perpustakaan ini luas dan besar, namun kelam. Bahkan yang memancarkan cahaya hanya lampu belajarku. Barangkali disini ada senter .... Aku mendekati meja Mrs. Sasha. Untung kuncinya bersamaku. Aku buka laci satu persatu dan mencari-cari alat yang bisa menambah penerangan. Ah, ketemu!
Aku menghidupkan senter dan berjalan ke rak buku yang dibaluk kegelapan. Ditempat ini banyak menyediakan buku-buku lama. Aku mengambil salah satunya. "Uhuk, uhuk...."
Debu menempel dibuku banyak sekali, pasti buku ini sudah berumur sangat tua. Aku menyorotkan senter ke cover buku. Disana tertulis: Jimmy Coater, BOCAH SETENGAH ROBOT. Pasti buku ini mengisahkan cerita pada anak yang sadis. Aku meletakkan buku dan berjalan lebih dalam. Memeriksa setiap buku di rak.
BRUK! BRUK!
Tidak sengaja aku menjatuhkan beberapa buku. Aku terbatuk-batuk. Debunya bertebaran membuat hidungku gatal. Eh, Ada sesuatu yang menarik perhatian. Di antara tumpukan buku aku menemukan potongan koran. Aku mengambil potongan itu dan membacanya.
_________________________________________________________________________________


                         Isu Si Gaun Hitam





Kota dikejutkan lagi oleh penculikan misterius. Selama satu tahun ini, mkejadian itu tidak terjadi dan dianggap sudah musnah. Sayang, mereka keliru. Dimulai dari keluarga Webster McDonald, salah satu anggota mereka diculik secara misterius
Kemudian selalu diikuti dengan keanehan yang janggal dan menghilangnya warga setiap malam.
   


Seorang perempuan muda yang selamat dari penculikan misterius itu mengaku dalam dari semua itu adalah Si Wanita Bergaun Hitam. Dia berani bilang karena selalu di teror suara-suara aneh yang menyebutkan kata "bunuh".
 Dia juga mengatakan apabila seseorang telah mendengar suara itu, maka wanita bergaun hitam akan datang dan menculik.
 


 Namun, tidak ada yang mempercayainya. Warga bilang dia sedang mengalami trauma berat dan syok. Memang masalah ini sangat rumit. Sampai sekarang tiada yang tahu pelaku dari penculikan ini. Atau memang benar, Si Gaun Hitam yang meneror dan menculik mereka semua?
_________________________________________________________________________________

Bersambung.



2 Responses to "Dibalik keberadaannya. Ah, hanya sebuah boneka (Jilid 5)"

  1. Bermata sipit ? #Oowooo terinspirasi si pehung tah ? :"D anjas lanjutkan wahai anak kebenaran. Daebakk!

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel