Dibalik Keberadaannya. - Ah hanya sebuah boneka (Lanjutan jilid 5)
Saturday, 28 March 2015
1 Comment
Mengerikan sekali. Di koran ini juga melihat sebuah gambar. Lebih tepatnya ilustrasi wanita bergaun hitam. Mungkin perempuan itu ingin orang memercayai penjelasannya dengan membuat ilustrasi Si Gaun Hitam. Sayangnya tidak ada yang percaya kepada perempuan itu.
Buku yang di bawah itu terlihat menarik untuk dilihat.
"Oh, buku riwayat pengajar sekolah"gumamku. Ketika membaca bagian cover. Tidak apalah, aku juga ingin tahu sejarah pengajar di sekolah ini. Aku kembali ke meja untuk membaca buku itu, masalah tugas nanti saja. Aku bisa menyelesaikannya sebentar lagi, kalau mood-ku masih baik.
Tiba-tiba....
Lampu di meja berkedip-kedip. Lho? Hidup kemudian mati lalu hidup lagi. "Mungkin baterainya habis." Aku tidak terlalu menghiraukan. Aku kembali fokus kepada bacaan.
Whuusss ...
"Tidurlah wahai anakku. Biarkan mimpi menghantuimu. Di malam suram, sunyi berselimut sepi...."
Aku mendengar seseorang bernyanyi. Seperti lagu pengintai tidur. Mungkin hanya perasaanku. Atau mungkin karena aku lelah, sehingga pendengaranku menjadi aneh.
"Bermimpi, kamu hanya bermimpi. Biarkan jiwamu pergi menjauh berganti dengan kematian..."
Terdengar sekali lagi. Ini bukan hanya kebetulan, aku betul-betul mendengar seseorang sedang bernyanyi. Dan sumbernya dekat dari tempatku sekarang.
"Kematian akan mengendap. Di saat mereka lengah ... bunuh mereka!"
Aku tersentak. Lagu itu berganti menjadi nada mengerikan.
Whuussss ...
Siapa itu? Aku membalikkan tubuh. Sepertinya aku melihat bayangan baru saja melewatiku. Jantungku berdegup kencang. Apa yang akan terjadi?
"Marilyn... Marilyn... Marilyn..."
Aku berdiri. Kuambil senter dan kusorot cahaya kebagian perpustakaan yang gelap gulita. Cahaya senter menangkap sebuah bayangan hitam yang melesat cepat. Pikiranku bergemuruh. Sesuatu dalam diriku menyuruh pergi dari perpustakaan. Aku mengambil kunci, perlahan aku mundur ke belakang, tapi masih tetap menyorot ke arah gelap.
BRUK!
Aku menyentuh sesuatu. Jeg! Jangan bilang kalau yang aku tabrak adalah....
Aku menelan ludah. Perlahan, aku memutar kepala dan...
"Aaaaaaaaa... PATUNG INI MEMBUATKU KAGET! sialan."
Di perpustakaan memang ada sebuah patung yang terletak di samping pintu masuk. Aku tidak tahu kenapa patung itu berada disini. Yang pasti dia sudah berhasil membuatku meleleh ketakutan. Aku memasukkan kunci kedalam pintu.
"ASTAGA, aku lupa bukuku!"
Kenapa harus disaat yang seperti ini!, aku membatin. Terpaksa aku kembali ke tempat gelap itu. Secepat kilat mengambil buku tanpa melihat kemana pun, terlebih menghadap ke depan. Kemudian aku berlari ke pintu, memasukkan kunci dan membuka pintu perpustakaan kemudian menguncinya. Sekarang yang menantiku adalah lorong gelap.
****
Bulan bersinat sangat terang. Aku bisa melihat cahaya bulan dari jendela. Letih sekali dan mataku agak berat. Sepertinya aku akan jatuh tertidur ketika sampai di kamar. Lonceng berbunyi menandakan sudah pukul 10 malam. Tadi, aku lama sekali dirumah Mrs. Sasha bercerita, aku tidak bisa berkelit sampai ceritanya habis. Setelah itu barulah bisa kembali ke sekolah.
"Kamu belum tidur, nak?" Seorang penjaga sekolah menghentikan lamunanku. Dia menggendong kucing piaraannya.
"Belum, pak. Saya berniat tidur sekarang."
Bapak itu mengangguk, matanya tidak lepas menatapku.
"Baiklah. Jangan berkeliaran lagi saat malam begini."
Aku mengangguk dan dia melewatiku. Eh, tapi kenapa kucing itu terus menatapku? Aneh sekali. Biarlah, hanya seekor kucing. Sendirian berkalan di lorong gelap dengan api lilin meliuk-liuk. Ada sesuatu hal yang membuatku teringat dengan arwah Lysa. Aku tidak habis pikir, kenapa arwah itu datang menerorku dengan suara dan ketika aku meminta jawaban, dia malah menghilang mendadak. Aneh bukan?
"Dingin sekali malam ini."
Tangga menuju lantai tiga sudah terlihat jelas. Aku memercepat langkah, aku tidak ingin sesuatu yang aneh menerorku lagi. Baru saja bicara seperti itu, aku melihat sesuatu di anak tangga.
"Kenapa ada boneka disini?"Aku heran menemukan boneka perempuan di tangga. Boneka itu tergeletak dengan pose duduk menyandar ke dinding. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Entahlah... pikiranku berpikir seperti itu. "Siapa pemilik boneka ini?"
Aku memutuskan mengambil boneka. Setidaknya untuk pajangan di kamarku, daripada nantinya dibuang oleh penjaga sekolah. Aku menggendong boneka itu. Lho?
Aku memutar kepada. "Perasaan ada yang berbicara tadi?"
Sudahlah! Sekarang saatnya istirahat. Aku berlari kecil menaiki tangga. Ah, leganya ketika sampai di kamar tanpai ada hal-hal aneh. Meskipun aku menemukan boneka yang diletakkan sembarang oleh pemiliknya. Aku yakin pemiliknya tidak suka lagi dengan boneka ini. Wajah boneka memang sudah tergores-gores, tapi tidak apalah.
Aku memutar knop pintu kamarku. KREEEEK!
****
Minggu yang mendung, walau begitu aku dan teman-teman masih menyempatkan diri bermain di taman sekolah. Ada sebuah ayunan tua di pohon dekat sekolah. Kata Nadia, ayunan ini sering dimainkan ketika seseorang sedang bersedih. Jika tidak ada yang bersedih, ayunanitu akan dibiarkan kosong. Oh ya, katanya ayunan ini bisa membuat hati tenang. Apalagi di depannya terpampang pohong-pohon rindang yang hijau.
"Aku ingin sekali bisa mendaki ke bukit itu" tunjuk Nadia.
"Kamu bisa berharap suatu hari nanti," sambung Rizky.
"Eh, Tri jangan selalu seperti hantu, dong" celetuk Gusenda kepada yang sedang asyik dengan bacaannya.
"Menurutku kamulah hantunya, selalu mengganggu ketenangan orang saja," balas Tri yang kemudian fokus lagi dengan bacaannya.
Aku tersenyum sambil duduk di ayunan. Angin lembut terasa begitu sejuk. Aku berayun-ayun sambil menutup mata. Kicauan burung kecil menambah indahnya hari. Aku bisa mendengar bunyi ayunan sedang aku mainkan. Semakin lama terdengar semakin lemah. Hingga akhirnya aku tidak mendengar bunyi ayunan termasuk suara teman-temanku.
"Hei, Raja, ayo kesini..."
Aku membuka mata. Kemana teman-temanku? Hanya aku yang ada disini.
"Raja, cepat kesini. Semuanya ada disini."
"Apa yang kalian lakukan didalam hutan?" tanyaku.
"Nadia merengek masuk ke dalam. Jadi, kami menuruti kemauannya. Kamu tidak mau ketinggalan bukan?"
Aku mengangguk saat Nadia berdiri di dalam sana sambar melambaikan tangan kepadaku. Aku pun berdiri meninggalkan ayunan yang masih bergerak-gerak. Sepertinya hari ini akan menjadi seru karena aku dan sahabatku akan menjelajah hutan.
"Kamu lama sekali Raja," Terdengar suara Gusenda dari dalam.
Anak itu sangan tidak sabaran. Aku berjalan mendekati hutan. Bagaimana, ya, suasana didalam hutan itu? Aku berpikir sendiri, tapi....
"Itu bukannya boneka yang ada di kamarku?"
Aku merasa melihat boneka berdiri di samping Nadia. Kenapa boneka bisa ada disini? Padahal, aku meletakkan di meja belajarku. Aku mengucek mata. Suara Nadia terus menyuruhku masuk kedalam hutan. Bahkan aku bisa mendengar suara Rizky yang kegirangan. Tinggal beberapa langkah lagi aku akan masuk ke hutan.
"RAJA!" Seseorang memegang pundakku. Dan ketika membalikkan wajah.....
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Gusenda.
"Bukannya kalian mengajakku masuk ke hutan?"
Mereka berpandangan satu sama lain. Aku melihat ke depan. Tidak ada lagi Nadia di dalam sana, tidak ada lagi boneka itu. "Aku yakin sekali kalian ada didalam sana dan menyuruhku masuk."
Nadia menggeleng heran. "Sejak tadi kami masih disini, Raja.
"Berarti siapa dong yang memanggilku tadi?"
"Tidak ada yang memanggilmu, Raja," Jelas Rizky.
"Aku yakinm tadi ada yang menyuruhku masuk kesana."
"Mungkin kamu berhalusinasi...."
Gusenda berdiri. "Yasudah. Lebih baik kita kembali saja ke sekolah. Sebentar lagi jam makan siang akan habis."
Kami mengangguk. Namun, aku masih bertanya-tanya siapa yang menyuruhku masuk kedalam hutan?
****
"Aku tunggu kamu di kantin pukul setengah tujuh malam," Gusenda memberi tahu. "Aku duluan, Raja."
Selalu saja terburu-buru. Salah satu sifat yang tidak bisa diubah Gusenda. Huaaahhh~... capek sekali hari ini. Aku menghidupkan lampu kamar dan duduk di kasur. Pelajaran hari ini sungguh menguras tenaga.
Aku teringat sesuatu. Aku melirik meja belajar. Boneka perempuan yang aku temukan masih ada disana. Apa yang dikatakan Gusenda tadi benar. Aku hanya berhalusinasi saja. Tapi, tadi jelas-jelas Nadia memanggilku dan boneka itu ada di sampingnya. "Hoaaaaammmmmm,"
Aku mengantuk sekali. Tidak berapa lama setelah itu tubuhku jatuh ke kasur. Perlahan tapi pasti, mataku mulai menutup. Rasanya aku mendengar seseorang bernyanyi lagi.
Seolah berusaha menidurkanku lalu semua menggelap.
Buku yang di bawah itu terlihat menarik untuk dilihat.
"Oh, buku riwayat pengajar sekolah"gumamku. Ketika membaca bagian cover. Tidak apalah, aku juga ingin tahu sejarah pengajar di sekolah ini. Aku kembali ke meja untuk membaca buku itu, masalah tugas nanti saja. Aku bisa menyelesaikannya sebentar lagi, kalau mood-ku masih baik.
Tiba-tiba....
Lampu di meja berkedip-kedip. Lho? Hidup kemudian mati lalu hidup lagi. "Mungkin baterainya habis." Aku tidak terlalu menghiraukan. Aku kembali fokus kepada bacaan.
Whuusss ...
"Tidurlah wahai anakku. Biarkan mimpi menghantuimu. Di malam suram, sunyi berselimut sepi...."
Aku mendengar seseorang bernyanyi. Seperti lagu pengintai tidur. Mungkin hanya perasaanku. Atau mungkin karena aku lelah, sehingga pendengaranku menjadi aneh.
"Bermimpi, kamu hanya bermimpi. Biarkan jiwamu pergi menjauh berganti dengan kematian..."
Terdengar sekali lagi. Ini bukan hanya kebetulan, aku betul-betul mendengar seseorang sedang bernyanyi. Dan sumbernya dekat dari tempatku sekarang.
"Kematian akan mengendap. Di saat mereka lengah ... bunuh mereka!"
Aku tersentak. Lagu itu berganti menjadi nada mengerikan.
Whuussss ...
Siapa itu? Aku membalikkan tubuh. Sepertinya aku melihat bayangan baru saja melewatiku. Jantungku berdegup kencang. Apa yang akan terjadi?
"Marilyn... Marilyn... Marilyn..."
Aku berdiri. Kuambil senter dan kusorot cahaya kebagian perpustakaan yang gelap gulita. Cahaya senter menangkap sebuah bayangan hitam yang melesat cepat. Pikiranku bergemuruh. Sesuatu dalam diriku menyuruh pergi dari perpustakaan. Aku mengambil kunci, perlahan aku mundur ke belakang, tapi masih tetap menyorot ke arah gelap.
BRUK!
Aku menyentuh sesuatu. Jeg! Jangan bilang kalau yang aku tabrak adalah....
Aku menelan ludah. Perlahan, aku memutar kepala dan...
"Aaaaaaaaa... PATUNG INI MEMBUATKU KAGET! sialan."
Di perpustakaan memang ada sebuah patung yang terletak di samping pintu masuk. Aku tidak tahu kenapa patung itu berada disini. Yang pasti dia sudah berhasil membuatku meleleh ketakutan. Aku memasukkan kunci kedalam pintu.
"ASTAGA, aku lupa bukuku!"
Kenapa harus disaat yang seperti ini!, aku membatin. Terpaksa aku kembali ke tempat gelap itu. Secepat kilat mengambil buku tanpa melihat kemana pun, terlebih menghadap ke depan. Kemudian aku berlari ke pintu, memasukkan kunci dan membuka pintu perpustakaan kemudian menguncinya. Sekarang yang menantiku adalah lorong gelap.
****
Bulan bersinat sangat terang. Aku bisa melihat cahaya bulan dari jendela. Letih sekali dan mataku agak berat. Sepertinya aku akan jatuh tertidur ketika sampai di kamar. Lonceng berbunyi menandakan sudah pukul 10 malam. Tadi, aku lama sekali dirumah Mrs. Sasha bercerita, aku tidak bisa berkelit sampai ceritanya habis. Setelah itu barulah bisa kembali ke sekolah.
"Kamu belum tidur, nak?" Seorang penjaga sekolah menghentikan lamunanku. Dia menggendong kucing piaraannya.
"Belum, pak. Saya berniat tidur sekarang."
Bapak itu mengangguk, matanya tidak lepas menatapku.
"Baiklah. Jangan berkeliaran lagi saat malam begini."
Aku mengangguk dan dia melewatiku. Eh, tapi kenapa kucing itu terus menatapku? Aneh sekali. Biarlah, hanya seekor kucing. Sendirian berkalan di lorong gelap dengan api lilin meliuk-liuk. Ada sesuatu hal yang membuatku teringat dengan arwah Lysa. Aku tidak habis pikir, kenapa arwah itu datang menerorku dengan suara dan ketika aku meminta jawaban, dia malah menghilang mendadak. Aneh bukan?
"Dingin sekali malam ini."
Tangga menuju lantai tiga sudah terlihat jelas. Aku memercepat langkah, aku tidak ingin sesuatu yang aneh menerorku lagi. Baru saja bicara seperti itu, aku melihat sesuatu di anak tangga.
"Kenapa ada boneka disini?"Aku heran menemukan boneka perempuan di tangga. Boneka itu tergeletak dengan pose duduk menyandar ke dinding. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Entahlah... pikiranku berpikir seperti itu. "Siapa pemilik boneka ini?"
Aku memutuskan mengambil boneka. Setidaknya untuk pajangan di kamarku, daripada nantinya dibuang oleh penjaga sekolah. Aku menggendong boneka itu. Lho?
Aku memutar kepada. "Perasaan ada yang berbicara tadi?"
Sudahlah! Sekarang saatnya istirahat. Aku berlari kecil menaiki tangga. Ah, leganya ketika sampai di kamar tanpai ada hal-hal aneh. Meskipun aku menemukan boneka yang diletakkan sembarang oleh pemiliknya. Aku yakin pemiliknya tidak suka lagi dengan boneka ini. Wajah boneka memang sudah tergores-gores, tapi tidak apalah.
Aku memutar knop pintu kamarku. KREEEEK!
****
Minggu yang mendung, walau begitu aku dan teman-teman masih menyempatkan diri bermain di taman sekolah. Ada sebuah ayunan tua di pohon dekat sekolah. Kata Nadia, ayunan ini sering dimainkan ketika seseorang sedang bersedih. Jika tidak ada yang bersedih, ayunanitu akan dibiarkan kosong. Oh ya, katanya ayunan ini bisa membuat hati tenang. Apalagi di depannya terpampang pohong-pohon rindang yang hijau.
"Aku ingin sekali bisa mendaki ke bukit itu" tunjuk Nadia.
"Kamu bisa berharap suatu hari nanti," sambung Rizky.
"Eh, Tri jangan selalu seperti hantu, dong" celetuk Gusenda kepada yang sedang asyik dengan bacaannya.
"Menurutku kamulah hantunya, selalu mengganggu ketenangan orang saja," balas Tri yang kemudian fokus lagi dengan bacaannya.
Aku tersenyum sambil duduk di ayunan. Angin lembut terasa begitu sejuk. Aku berayun-ayun sambil menutup mata. Kicauan burung kecil menambah indahnya hari. Aku bisa mendengar bunyi ayunan sedang aku mainkan. Semakin lama terdengar semakin lemah. Hingga akhirnya aku tidak mendengar bunyi ayunan termasuk suara teman-temanku.
"Hei, Raja, ayo kesini..."
Aku membuka mata. Kemana teman-temanku? Hanya aku yang ada disini.
"Raja, cepat kesini. Semuanya ada disini."
"Apa yang kalian lakukan didalam hutan?" tanyaku.
"Nadia merengek masuk ke dalam. Jadi, kami menuruti kemauannya. Kamu tidak mau ketinggalan bukan?"
Aku mengangguk saat Nadia berdiri di dalam sana sambar melambaikan tangan kepadaku. Aku pun berdiri meninggalkan ayunan yang masih bergerak-gerak. Sepertinya hari ini akan menjadi seru karena aku dan sahabatku akan menjelajah hutan.
"Kamu lama sekali Raja," Terdengar suara Gusenda dari dalam.
Anak itu sangan tidak sabaran. Aku berjalan mendekati hutan. Bagaimana, ya, suasana didalam hutan itu? Aku berpikir sendiri, tapi....
"Itu bukannya boneka yang ada di kamarku?"
Aku merasa melihat boneka berdiri di samping Nadia. Kenapa boneka bisa ada disini? Padahal, aku meletakkan di meja belajarku. Aku mengucek mata. Suara Nadia terus menyuruhku masuk kedalam hutan. Bahkan aku bisa mendengar suara Rizky yang kegirangan. Tinggal beberapa langkah lagi aku akan masuk ke hutan.
"RAJA!" Seseorang memegang pundakku. Dan ketika membalikkan wajah.....
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Gusenda.
"Bukannya kalian mengajakku masuk ke hutan?"
Mereka berpandangan satu sama lain. Aku melihat ke depan. Tidak ada lagi Nadia di dalam sana, tidak ada lagi boneka itu. "Aku yakin sekali kalian ada didalam sana dan menyuruhku masuk."
Nadia menggeleng heran. "Sejak tadi kami masih disini, Raja.
"Berarti siapa dong yang memanggilku tadi?"
"Tidak ada yang memanggilmu, Raja," Jelas Rizky.
"Aku yakinm tadi ada yang menyuruhku masuk kesana."
"Mungkin kamu berhalusinasi...."
Gusenda berdiri. "Yasudah. Lebih baik kita kembali saja ke sekolah. Sebentar lagi jam makan siang akan habis."
Kami mengangguk. Namun, aku masih bertanya-tanya siapa yang menyuruhku masuk kedalam hutan?
****
"Aku tunggu kamu di kantin pukul setengah tujuh malam," Gusenda memberi tahu. "Aku duluan, Raja."
Selalu saja terburu-buru. Salah satu sifat yang tidak bisa diubah Gusenda. Huaaahhh~... capek sekali hari ini. Aku menghidupkan lampu kamar dan duduk di kasur. Pelajaran hari ini sungguh menguras tenaga.
Aku teringat sesuatu. Aku melirik meja belajar. Boneka perempuan yang aku temukan masih ada disana. Apa yang dikatakan Gusenda tadi benar. Aku hanya berhalusinasi saja. Tapi, tadi jelas-jelas Nadia memanggilku dan boneka itu ada di sampingnya. "Hoaaaaammmmmm,"
Aku mengantuk sekali. Tidak berapa lama setelah itu tubuhku jatuh ke kasur. Perlahan tapi pasti, mataku mulai menutup. Rasanya aku mendengar seseorang bernyanyi lagi.
Seolah berusaha menidurkanku lalu semua menggelap.
![]() |
| Bersambung.. |

Ada typo bep, lanjutkan greget deh sama raja. Diterror terus ;3
ReplyDelete