Dibalik Keberadaannya. - Ah hanya sebuah boneka (Lanjutan)

Aku membuka mata, masih ada di kamarku sendiri. Rasanya lebih gelap, deh. Entah karena aku baru bangun tidur. Aku memeriksa boneka, masih ada di meja. Berarti boneka itu tidak berhantu. Ya, aku bilang begitu karena aku mendapatkannya di tangga menuju lantai tiga. Dan aku tidak tahu siapa pemiliknya.
Aku bergerak ke jendela, sudah gelap ternyata. Lebih baik aku keluar saja, ujarku dalam hati. Aku menukar pakaian kemudia membuka pintu. Masih jam setengah delapan. Kok, sudah sepi? Biasanya lorong sepi sekitar jam sembilan. Karena jam segitu tidak ada yang berani keluarkan suara. Ah, tentu saja aku tidak percaya. Kemarin saja aku mendengar gelak tawa Gusenda dan Tri.
Aku menggedor kamar Gusenda. Tidak ada balasan. "Ini aku Raja.."
Tetap saja begitu. Apa mereka sudah berada di kantin untuk makan malam? Mungkin saja. Ah, aku akan mengajak Ichwan saja. Aku memutar arah, ke arah pojokan yang terkesan angker. Aku berhenti tepat di kamar A16. Kamar terakhir di lantai ini. Dengan hati-hati aku menggedor.
"Ichwan, ini aku Raja. Bagaimana kalau kita ke kantin sekarang. Aku sudah lapar!"
Tiba-tiba saja, pintu kamar Ichwan terbuka. Apa anak itu lupa mengunci pintu? aku mengulurkan kepala ke dalam. Tidak biasanya kamar Ichwan gelap seperti ini. Aku memanggilnya lagi. Dia benar-benar tidak ada. Sesuatu dalam otakku menyuruh untuk melihat kamarnya sekali lagi. Meskipun sebelumnya aku pernah kesini.
Aku mencari sakelar lampu. Kemudia menghidupkan lampu. "Masih seperti biasa."
Kamar Ichwan tidak ada perubahan dari yang kulihat sebelumnya. Masih ada boneka berwujud saudaranya di atas kasur. Aku masuk ke dalam. Duduk di kursi yang di atasnya ada kaca besar. Di meja ini aku melihat banyak tumpukan kertas. Hanya berupa tugas-tugas Ichwan yang belum selesai. Pasti Ichwan keluar karena jenuh dengan tugas ini, pikirku. Aku tersenyum. Eh, aku menemukan album foto milik Ichwan, kebetulan anak itu tidak ada di sini, aku membuka album itu.
"Ternyata Ichwan bisa tersenyum." aku bergumam ketika melihat foto Ichwan yang tersenyum bersama seorang laki-laki yang tertawa. Pasti ini saudara dia katakan. Ada tulisan di bawahnya. "Me and Ryan."
Jadi nama saudaranya itu Ryan. Aku membalik halaman selanjutnya. Banyak sekali foto Ichwan dan Ryan. Ada juga foto ibunya dengan mata sayu yang lebar bersama laki-laki tegap berwibawa. Jelas sekali sosok itu ayahnya. Pada bagian akhir album, aku melihat foto Ichwan bersama seseorang yang sedang tidur di rumah sakit. Ada kalimat yang ditulis dibawahnya, "The last memory with Him."
Aku tertegun. Aku tahu maksudnya. Kenang-kenangan terakhir bersama saudara yang dia cintai. Eh, tunggu sebentar. Apa mataku yang salah atau apa? Aku baru saja melihat ada cairan yang keluar dari album ini. Tinta berwarna merah itu terus bermunculan. Tak sengaja aku memegangnya. Lengket. Ini bukan tinta... INI DARAH!
Sontak aku berdiri. Bahkan cairan itu telah merembes ke lantai. Apa yang telah terjadi? Tidak sengaja aku melihat ke cermin besar. Astaga, di belakangku sudar berdiri seorang wanita seram dengan tubuh berdarah-darah. Aku tersentak. Wanitaitu memegang rambutku. Lalu mengempaskan kepalaku ke cermin.
PRAAANNGGG!
"AAAA..!"
Aku mengatur napas. Mimpi buruk lagi. Aku hean sekali, tumben-tumbennya aku dihinggapi mimpi buruk semenjak masuk ke sekolah ini. Aku menukar pakaian. Hari sudah pukul setengah delapan. Aku berencana ke kantin. Ah, lebih baik aku mengajak Gusenda saja.
"Ini aku Raja.."
Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Mungkin dia telah pergi. Ah ya, aku teringat Ichwan. Aku berjalan ke kamar Ichwan lalu mengetok pintunya. Ternyata pintu kamarnya terbuka sendiri. Kosong dan gelap. Aku menghidupkan lampu kamar. Masih sama saat aku kesini beberapa waktu lalu. Aku berlaih ke meja belajar Ichwan yang diatas terdapat sebuah cermin. Banyak tumpukan tugas yang belum selesai dan ada satu buku yang menarik perhatianku. Album foto milik Ichwan. Aku membukanya. Melihat semua foto yang dia miliki. Eh, tumben sekali Ichwan tersenyum. Aku melihat yang lain.
Tunggu sebentar.
Aku tersadar akan sesuatu. Yang aku lakukan sejak bangun tidur mirip dengan mimpiku! Oh, tidak. Secepat mungkin aku memeriksa buku dan cermin. Tidak ada darah dan kehadiran wanita yang mengempaskan kepalaku ke cermin. Pfftt...
"Ngomong-ngomong disini dingin sekali."
Ternyata jendela kamar Ichwan terbuka. Aku menggeser kursi. Beralih ke jendela dan menutupnya. Saat itulah aku mendengar sesuatu.
Awalnya tidak jelas. Makin lama aku tahu sesuatu itu. Keras sekali sampai menggema kesini. Karena sesuatu adalah... teriakan siswa dari lantai dua.
****
Semuanya berkumpul di lantai dua. Aku penasaran dengan apa yang sedang terjadi? Aku menerobos kerumunan siswa yang sama penasarannya denganku.
"Permisi-permisi..."
Kulihat Gusenda beresta Nadia, Rizky, dan Tri juga ada. Wajah mereka tampak cemas.
"Dia membawa Novia."
Kalimat itu mengejutkanku. Rupanya seorang siswa terduduk dengan air mata berjatuhan. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya sangat ketakutan.
"Bisakah kamu menjelaskan apa yang terjadi?" tanya kepala sekolah.
Perempuan yang tidak kutahu namanya mengangguk. Dia menelan ludah, cemas. "Wanita seram itu, dia menghantui aku dan Novia. Aku tidak tahu kenapa, yang jelas dia sangat menakutkan. Dia bilang kalau dia akan membunuh satu per satu penghuni disini."
Aku bisa mendengar siswa yang lain syok. Aku juga begitu. Siapa yang tidak akan kaget mendengar penjelasan siswa itu. "Dimana temannu Novia?"
Mendengar kata Novia, gadis itu menjerit. "Dia... Wanita itu menculik Novia! Bahkan dia berniat menculikku juga!"
Setelah itu dia menjerit sekeras-kerasnya. Para guru berusaha menenangkan siswa yang tampak trauma itu. Kemudian aku melihat siswa itu dibawa ke UKS. Aku merinding sekali. Aku bisa mendengar siswi itu berkata, "Siapa wanita itu?" dan "Aku takut sekali."
"Sekarang kembalilah ke kamar. Tenang saja.. kalian aman," ujar kepala sekolah.
Para siswa mulai bergerak dan kembali ke kamar dengan bisikan-bisikan. Aku masih bisa mendengar kepala sekolah berbicara kepada seorang guru. "Ada seseirang yang menyamar di sekolah ini! Suruh petugas menemukan siswa yang diculik itu. Jangan biarkan para siswa ketakutan dan trauma."
"Kepala sekolah, aku tidak yakin kalau ini perbuatan manusia. Aku takut kalau yang melakukannya adalah..."
Aduh. Aku tidak bisa mendengar lanjutan kalimat itu, karena seseorang siswa berbicara keras sekali. Aku tidak menemukan Gusenda dan yang lainnya. Semuanya berdesakan. Ada yang berlari-lari, ada yang marah ketika seseorang tanpa sengaja menyenggol. Semuanya kacau dan bercampur aduk. 
"Perhatian. Tidak ada satu pun dari kalian yang keluar kamar detik ini. Kami telah menyuruh petugas keamanan untuk menjaga kalian. Kalian tidak usah takut. Masalah siswi yang hilang, kami akan mencarinya segera. Dan yakinlah kalau ini hanya kecelakaan!"
Menurutku ini bukanlah kecelakaan. Aku sering dihinggapi mimpi buruk dan hal-hal aneh. Berlanjut dengan munculnyay teror ini, pasti semua ini menyangkut satu hal. Sayangnya aku belum tahu hal itu. Pastinya hal buruk.
Dengan cepat aku membuka pintu kamar. Tanpa aku sangka-sangka, boneka itu sudah berada di kasurku. Duduk diam seolah menanti kehadiranku.




Bersambung

1 Response to "Dibalik Keberadaannya. - Ah hanya sebuah boneka (Lanjutan)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel