Dibalik keberadaannya. - Eh, apa itu? (Jilid 6)
Wednesday, 29 April 2015
Add Comment
Berjalan sendirian begitu mengasyikan. Apalagi ditemani kicauan burung dipagi hari. Namun, matahari seolah malas mengeluarkan cahayanya. Ia lebih memilih sembunyi dibalik gumpalan hitam di langit. Kursi dibawah pohon itu tampak nyaman untuk di duduki, aku pun melangkahkan kaki kesana dan duduk dibawah pohon.
Aku memandang bangunan sekolahku, dari sini kelihatan sangat besar dan megah. Terlihat para penghuni berlarian bahagia.
"Pssttt, hei kamu yang disana. Ayo, kesini!"
Aku memutar kepala. "Siapa disana?"
"Ayo, kesini. Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Lagi-lagi ada suara aneh mendekatiku. Dia menyuruhku memasuki hutan. Yang benar saja, ngapain aku kesana?
"Bilang dulu, siapa kamu?" Tanyaku.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Ini menyangkut sesuatu sangat penting."
"Sesuatu yang penting apa?"
"Makanya, cepat kesini."
Tanpa aku sadari, aku telah sampai di dalam hutan belakang sekolah. Jalan setapak penuh semak-semak tinggi. Aku bisa melihat hewan-hewan kecil berlarian. Ada sebuah pohon besar tepat di dalam hutan ini. Pohon rimbun terlihat gelap dan menakutkan. Aku memegang batang itu. Sudah tua dan terkelupas.
"Kamu akan menemukan sesuatu disana!"
Apa yang akan aku temukan? Ya, paling hanya daun-daun kering dan hewan kecil.
Ada sebuah celah di bawah batang pohon ini. Aku menundukkan kepala, siapa tahu aku menemukan sesuatu yang penting. Ternyata benar, aku mendapatkan sehelai kertas dilipat yang kotor karena tanah, Ada bagian yang bisa aku baca. Di atasnya tertulis, "Selamat bagi siapa yang telah menemukan kertas ini." Aku menghalau tanah yang menempel.
Aku memandang bangunan sekolahku, dari sini kelihatan sangat besar dan megah. Terlihat para penghuni berlarian bahagia.
"Pssttt, hei kamu yang disana. Ayo, kesini!"
Aku memutar kepala. "Siapa disana?"
"Ayo, kesini. Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Lagi-lagi ada suara aneh mendekatiku. Dia menyuruhku memasuki hutan. Yang benar saja, ngapain aku kesana?
"Bilang dulu, siapa kamu?" Tanyaku.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Ini menyangkut sesuatu sangat penting."
"Sesuatu yang penting apa?"
"Makanya, cepat kesini."
Tanpa aku sadari, aku telah sampai di dalam hutan belakang sekolah. Jalan setapak penuh semak-semak tinggi. Aku bisa melihat hewan-hewan kecil berlarian. Ada sebuah pohon besar tepat di dalam hutan ini. Pohon rimbun terlihat gelap dan menakutkan. Aku memegang batang itu. Sudah tua dan terkelupas.
"Kamu akan menemukan sesuatu disana!"
Apa yang akan aku temukan? Ya, paling hanya daun-daun kering dan hewan kecil.
Ada sebuah celah di bawah batang pohon ini. Aku menundukkan kepala, siapa tahu aku menemukan sesuatu yang penting. Ternyata benar, aku mendapatkan sehelai kertas dilipat yang kotor karena tanah, Ada bagian yang bisa aku baca. Di atasnya tertulis, "Selamat bagi siapa yang telah menemukan kertas ini." Aku menghalau tanah yang menempel.
Aku bertemu dengannya. Kemudian aku membunuhnya.
Siapa pun yang bertemu denganku pasti akan kubunuh, seperti aku
membunuh dia.
Berikan aku satu tumbal, maka aku akan menghilang. Jika
tidak, tunggulah permainanku.
Apa-apaan ini? Aku merusak kertas ini. Siapa yang berani membuat kalimat-kalimat mengerikan itu? Suara misterius yang memanggilku sudah pergi entah kemana. Meninggalkanku dalam kebingungan. Tiba-tiba saja, angin berembus kencang. Pohon-pohon bergoyang dengan burung berterbangan, seolah mengetahui apa yang akan terjadi.
Aku membuang kertas, lebih baik aku pergi saja. Aku berlari ke sekolah.
"Permainannya sudah dimulai. Dia bersembunyi di sekolahmu sekarang. Menanti orang yang sendirian. Bahkan kamu tidak menyadari bahwa yang ada di dalam kamarmu ....."
Aku menutup telinga, aku tidak ingin mendengarnya. Sudah muak dengan semua ini. Kapan aku bisa hidup normal lagi tanpa gangguan dari mahluk halus menyeramkan itu, dan kenapa selalu aku yang di hantui? Apakah aku seburuk itu? Sehingga hantu senang mendekatiku.
Aku menengok kebelakang. Di samping pohon ada seorang berseragam sedang berdiri. Kalau tidak salah, bukan kah itu ....
Lysa?
****
Aku masih bertanya, apakah benar yang kulihat itu arwah Lysa atau bukan. Dia menghilang tiba-tiba dan meninggalkan pesan. Dia kembali untuk menunjukkan surat ini. Dia bilang sesuatu di dalam kamarku. Tidak ada yang aneh di dalam kamar.
"Raja, kamu menerima sebuah panggilan?" Tri bertanya kepadaku.
"Siapa yang memanggilku?"
Dia mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Kamu ke lantai utama saja."
Aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Siapa yang menelponku. Jangan-jangan ibu dan ayah. Wah, aku sudah kangen dengan mereka bedua. Aku berlari menuruni tangga besar menuju lantai utama. Rupanya Mr.Yoga melambaikan tangan kepadaku.
"Ada panggilan dari teman lamamu," Katanya sambil memberikan telepon.
Aku menerimanya. Teman lama? Jangan-jangan ....
"Halo," sapaku.
"Halo, Raja. Masih ingat aku?"
Aku senang sekali. Orang yang menelponku adalah Yaya. "Tentu saja ingat, Bagaimana kabar disana?"
"Semuanya baik-baik saja. Kami merindukanmu, Raja."
"Aku juga merindukan kalian semua," sahutku. Aku merasa Yaya tersenyum disana. "Eh, saat akan kesini. Aku melihat ada orang yang berdiri di belakangmu. Itu siapa?"
Yaya tertawa. "Jadi kamu melihatnya juga. Dia arwah Lysa, kamu pasti sudah melihatnya di sekolah barumu. Pada malam sebelum keberangkatanmu, dia mendatangiku. Katanya akan ada sesuatu hal yang terjadi padamu. Makanya dia mengikutimu sampai di sekolah itu."
"Dia menerorku dengan suara yang mengerikan."
"Dulu aku pernah bilang sesuatu kepada kalian di bawah pohon beringin. Mengenai kejadian buruk itu."
Aku mengerutkan kening. "Maksudmu apa?"
"Oh, tidak. Bukan apa-apa. Raja, kamu sudah melihat hal aneh itu bukan?" Nada bicara Yaya berubah datar. "Aura gelap bersemayam di malam sana. Berhati-hatilah dengan suara anak kecil. Mungkin setelah ini hal yang lebih buruk akan terjadi. Secepat mungkin kamu singkirkan wanita itu. Seorang teman akan menjadi penolongmu."
Aku diam saja.
"Sudah ya, Raja. Kami merindukanmu. Kamu pasti bisa melakukannya."
Tut ... tut ... tut ...
Panggilan berakhir. Aku memberikan telepon dengan malas kepada Mr. Yoga. Selalu begitu. Sebenarnya aku sudah muak dengan semua ini. Keanehan yang membuatku bingung. Si Wanita Misterius yang tidak tahu seperti apa wujudnya. Lalu kertas yang beisi ancaman menakutkan. Perutku berbunyi. Kejadian hari ini membuatku cepat lapar.
****
"Hei, kamu tahu anak yang bernama Novia itu belum juga di temukan."
"Masa iya? Jangan bercanda."
"Aku serius. Ketika berjalan, tidak sengaja aku mendengar percakapan dua orang guru.Mereka bilang Novia tidak di temukan dimana pun."
"Hah? Maksudmu dia tidak ada disekolah ini?"
"Benar sekali. Tapi, penjaga masih terus menyelidiki."
"Mengerikan sekali. Lalu bagaimana dengan temannya yang bernama Asti?"
"Mengerikan sekali. Lalu bagaimana dengan temannya yang bernama Asti?"
"Aku dengar Asti baik-baik saja. Sayangnya dia selalu diam. Ketika diajak bicara, dia tidak menyahut satu kata pun."
"Aku rasa dia trauma dengan kejadian yang menimpanya beserta hilangnya Novia."
"Aku dengan Asti bilang dia melihat seorang wanita mengerikan. Apa mungkin ...."
"Aku juga merasa begitu. Sekarang, kita harus waspada. Aku mendapatkan firasat akan ada siswa yang mengalami hal serupa."
"Ih, aku tidak ingin seperti itu."
"Siapa juga yang ingin mengalami hal itu. Eh, kemarin aku bermimpi aneh. Seseorang seperti menyebutkan kalau malam ini ...."
"......"
![]() |
| Bersambung |

0 Response to "Dibalik keberadaannya. - Eh, apa itu? (Jilid 6)"
Post a Comment