Dibalik Keberadaannya. - Teror (Jilid 7)

Aku baru saja pergi dari ruang Mrs. Caca ketika hal aneh mengganggu pikiranku. Entahlah apalah itu, tapi aku merasa tidak enak saja. Aku berhenti sebentar. Lalu melihat ke lantai utama dari atas sini. Timbul bayangan yang menyerupai bentuk tubuh seseorang, aku tidak terkejut, bisa aja itu bayangan dari patung.
Aku terpisah dengan Gusenda dan Nadia. Sepertinya mereka bakal sulit mencariku. Aku berjalan pelan, sambil bersenandung. Andaikan lorong ini di beri penerangan yang lebih baik dari sekarang, pasti tidak ada orang yang takut keluar malam-malam. Selama aku disini, mungkin hanya aku dan teman-temanku serta sebagian kecil siswa yang keluar malam-malam, selebihnya memilih meringkuk di kasur mereka.
Desahan terdengar. Awalnya hanya berupa suara yang diseram-seramkan, tapi makin lama terdengar seperti orang yang berbicara.
"Biarkan dia mendekatimu. Biarkan dia memegangmu."
"Apa?"
Aku merasa suara itu keluar dari dinding. Aku mendekatkan telinga ke dinding.
"Biarkan dia membunuhmu...."
Aku berlari dengan tangan memegang dinding.
"Membunuhmu...."
"Bunuh?"
"steven!"
Aku tersentak kaget. Itu suara Gusenda dan Nadia, aku mengatur napas.
"Kami sudah mencarimu ke mana-mana" Ujar Nadia.
Aku tidak menghiraukan suara itu. Mataku masih melihat ke langit-langit. "Apa kalian mendengar suara?"
"Suara apa?" Gusenda bingung.
"Suara seseorang. Sangat menyeramkan!"
Mereka saling bertatapa dan Nadia mengangkat bahu. Telingaku menangkap suara itu lagi. "Suara itu berpindah. Seseorang akan di bunuh sebentar lagi" ujarku kemudian berlari meninggalkan mereka.
"Raja, tunggu. JANGAN TERLALU KENCANG. HEY!"
Kemana suara itu pergi? Aku menyusuri setiap lorong yang ada. Tapi, tidak menemukan suara itu lagi. Di belakang Nadia dan Gusenda mengikutiku. Aku berbelok ke arah kiri.
Lorong yang lebih terang dari tempat tadi. Aku menemukan jejak kaki di lantai, kemudian di dinding.
"Lihatlah, ini" ujarku pada Nadia dan Gusenda.
"Jejak kaki siapa?" 
"Aku tidak tahu. Ini sangat aneh," ujarku. Jelas sekali jejaknya masih baru.
"Hei," Nadia memanggil aku dan Gusenda. Wajahnya tiba-tiba ketakutan. "Itu... di depan sana..."
Serentak aku dan Gusenda melihat kedepan. Oh, tidak! Baru saja aku melihat seorang tergeletak. Aku mendekatinya, tubuhnya kaku, sangat pucat. Ada bekas luka panjang di tangannya di wajahnya.
"Dia masih hidup!" aku merasakan denyut nadinya masih berdetak, walau lemah. "Aku akan panggil penjaga sekolah," ujarku. "Kalian tetap disini!"
Nadia menggeleng. "Aku tidak bisa. Aku ikut denganmu."
Terpaksa Gusenda yang menjaga tubuh siswa yang tergeletak. Meskipun aku bisa melihat raut cemas dan takut yang dirasakannya. Tunggulah sebentar, aku dan Nadia berlari ke arah lantai dasar. Kami menemukan penjaga sekolah yang sedang berkeliling.
"Pak, kami butuh bantuan!"
"Ada apa?" Tanya penjaga.
"Ada korban lagi, pak. Ada di pembelokan itu, teman kami sedang menjaganya."
Ketika berbelok, aku dan Nadia terkejut, sedangkan penjaga itu mengerutkan kening. Kemana siswa itu? Kemana Gusenda? Jejak kaki itu juga menghilang. Nadia khawatir.
"Jangan bercanda, anak muda," ucap penjaga seperti sedikit marah kepada kami.
"Kami tidak bercanda, Pak. Siswa itu tadi ada disini bersama teman kami."
"Raja, apa itu di belakang patung?" Nadia menunjuk ke sebuah patung hewan.
Aku menyipitkan mata, ada seseorang yang duduk di sana. Siapa? Aku mendekatinya, kucondongkan wajah ke samping patung, dan aku menemukan sosok Gusenda sedang mendekap kedua lututnya.
"Gusenda?"
Dia tersentak. Sangat kaget. Napasnya berpacu. "Raja, aku melihatnya!"
Aku bingung. Begitu juga penjaga dan Nadia. Gusenda menatap kami semua, kemudian pandangannya tertuju pada lorong yang sangat gelap. Akibatnya dia menjadi sangat takut. Seolah ada seseorang yang menakutinya di lorong itu. Aku menatap ke lorong gelap.
"Siapa yang kamu lihat?" Tanya Nadia.
"Aku melihat...." Gusenda begitu sulit berbicara. "Melihat wanita itu mengambil siswa tadi dan membawanya ke dalam gelap. Bukan hanya itu saja, dia... dia... bilang kalau aku adalah korban selanjutnya..."
Aku dan Nadia tercengang. Nadia menutup mulutnya, tidak percaya dengan kalimat yang barusan di katakan Gusenda. Penjaga hanya terdiam dan heran. Ada rasa takut yang mengelilingi tubuh laki-laki itu.
"A-aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi disini?"
****
Gusenda menjadi paranoid setelah kejadian malam tadi. Dia selalu melihat ke sana sini karena merasa wanita itu akan menangkapnya. Sampai sekarang aku belum tahu seperti apa wujud perempuan itu. Aku sudah menanyakannya kepada Gusenda, Tapi, Gusenda tidak ingin mengingat wanita itu lagi. Aku mengerti.
"Bagaimana kalau ke kantin?"
Gusenda menggeleng. "Aku tidak mau. Aku tidak ingin ke mana-mana." ungkap Gusenda.
"Ayolah. Kamu harus menenangkan pikiranmu."
"Aku ingin dikamar saja."
Memang satu-satunya cara adalah membawa Gusenda kembali ke kamarnya. Aku menuntunnya ke kamar, sepanjang jalan Gusenda selalu melirik kemana pun. Sesekali terkejut karena merasa wanita itu ada di depannya. Padahal ketika dilihat sosok itu hanyalah anak perempuan yangheran melihat tingkah Gusenda.
Gusenda membuka pintu kamar dengan cepat. Kemudian duduk di kursi sambil mengatur napas. "Aku meraa lebh baik jika berada di dalam sini."
Aku mengangguk. "Aku mengerti." ujarku. "Kalau begitu aku pergi dulu."
"Tolong tutup pintunya."
Aku mengiyakan. Setelah menutup pintu, aku kembali menuruni lantai tiga. Aku akan ke kantin karena sudah lapar. Tanpa di sangka aku berpapasan dengan Ichwan. Selalu saja seperti itu. Datar dan dingin. Dia melihatku sekilas, tersenyum sedikit kemudian pergi ke kamarnya. Aku hanya dia membalas senyum itu.
"Eh, Ichwan. Kamu ada acara sekarang?" Aku mencoba menghentikan langkahnya.
DIa berhenti. Membelakangiku. "Tidak. Kenapa?"
"Bagaimana kalau kita ke kantin. Aku tidak ada teman sekarang ini."
Dia berjalan lagi. "Aku tidak bisa, Raja. Aku tidak ingin semua berubah pandangan tentang dirimu karena aku."
"Aku tidak mengerti."
"Kamu tidak harus mengerti sekarang. Sebentar lagi kamu akan tahu maksudku."
Aku diam saja. Ichwan selalu membuatku bingung setengah mati. Dia suka sekali membuatku penasaran. Pffttt, mungkin sampai petang aku akan sendirian. Biarlah, yang penting sekarang adalah makan.





Bersambung

1 Response to " Dibalik Keberadaannya. - Teror (Jilid 7)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel