Dibalik keberadaannya. - Suara aneh itu (Jilid 3)

Nadia membawaku ke cafeteria sekolah, dia bilang rasa makanan di situ labil. Kadang enak dan kadang juga tidak enak. Biasanya setiap hari sabtu-minggu banyak siswa yang mengeluh tentang masakan. Bahkan ada yang sampai sakit perut.
“Aku akan membawakan makanan untukmu,” ujar Nadia. “Terima kasih, nad” Aku menunggu kedatangan Nadia sambil bernyanyi kecil.
Aku memang belum terbiasa di sekolah ini, tapi itu tidak akan lama. Agak canggung ketika sekumpul murid menatapku aneh. Apakah ada yang salah dengan pakaianku? Rasanya tidak ada. Tapi, aku hanya membalas dengan senyuman dan setelah itu mereka kembali pada makanan masing-masing. “Hai, Raja” seseorang memanggilku, ketika aku mendongkak, rupanya itu Gusenda. Aku membalasnya.
“Boleh aku duduk disini?”
“Tentu saja” Gusenda meletakkan nampan penuh makanan di meja. Dia menyeruput teh.
“Sendirian saja?” Tanyanya lagi. Aku menggeleng. “Aku bersama Nadia. Dia sedang mengambil makanan. Jadi, aku menunggu…., itu dia!” Nadia meletakkan makanan di meja. Terasa seperti diempaskan. Dia duduk di antara kami berdua dan menarik napas panjang.
“Pegawai kantin itu menyebalkan. Masa aku tidak boleh bertanya sedikitpun. Lalu aku dibilang banyak omong.” Gusenda tertawa. “Lagian kamunya juga, sih. Sudah jelas pegawai kantin seperti itu.” Nadia memukul lengan Gusenda. Gusenda meringis.
“Jadi, kalian sudah kenal satu sama lain?” aku bertanya sebelum memasukkan makanan ke mulut. Nadia dan Gusenda berpandangan lalu cekikikan. Apa aku salah bertanya? Gusenda mengangguk. “Betul, kami sudah sejak lama berteman. Malah Nadia ini adalah teman main kecilku. Iyakan, Nadia?” Nadia ngambek. Aku hanya tersenyum.
“Oh ya, Raja, aku penasaran bagaimana rasanya sekolah di.. apa namanya?
“Hogwarts?” Dia menangguk cepat.
Mendengar itu, aku seolah patah semangat, aku teringat mereka yang ada disana. Bahkan aku teringat dengan Rizky dan Yaya. “Sangat asyik bagiku, penuh kenangan. Memang sih, dulunya ketika masuk disana aku anak baru. Tapi ketika mendengar tentang Hogwarts, aku merasa sedih.” Nadia terlihat murung. “Maaf membuatmu teringat kenangan itu.”
“Tidak apa-apa. Aku tidak ingin bersedih karena memikirkan itu terus. Sekarang aku sudah sekolah ini dan memiliki teman baru yang asyik seperti kalian berdua.” Setelah itu, aku dan kedua teman baruku larut dalam pembicaraan. Terkadang ada siswa lain yang heran melihat tingkah kami. Sebenarnya tingkah Nadia dan Gusenda. Aku hanya ikut tertawa saja, bahkan ada siswa yang tersenyum oleh mereka berdua.
Rajaa..
Aku tersentak. Seseorang menyebut namaku! Aku menoleh kesamping. Tidak ada yang memanggilku dan siswa disini tidak mengenalku.
Raja...
Suara itu lagi, aku ingin menanyakan kepada Nadia dan Gusenda. Tapi, mereka masih asyik bercanda. Itu berarti mereka tidak mendengar seseorang sedang memanggil namaku. Entah kenapa, kepalaku menjadi sakit. Aku merasa sesuatu merasuki tubuhku, tiba-tiba saja pandanganku menjadi kabur dan suara itu memenuhi kepalaku.
Hanya dirimu satu-satunya..” Aku menggeleng. Hentikan! “Sebentar lagi..” Aku menggeleng lagi. Sekarang, keringat mengucur dari dalam kulitku. Aku gemeteran.
Saat malam bulan purnama, dia akan datang dan satu dari mereka akan….
Seseorang mengguncang tubuhku. Aku terkejut, jantungku berdetak cepat, aku bisa melihat Nadia dan Gusenda menatapku bingung. “Kamu baik-baik saja?” Aku menangguk lemah. “Iya, tadi tiba-tiba kepalaku sakit. Entah, aku tidak tahu.”
“Sekarang bagaimana? Ayo, kita ke UKS.” Aku menolak. “Tidak usah, sekarang sudah tidak apa-apa.” Beberapa detik setelah itu, aku dan kedua temanku meninggalkan kantin. Namun, aku masih bingung, sebenarnya maksud dari suara itu apa? Jangan-jangan…
“Raja, mau temenin aku ke perpustakaan?” Gusenda mengajakku. “Baiklah, sembari menenangkan diri.”
****
Pelajaran cepat berakhir hari ini. Rupanya Gusenda memintaku ke perpustakaan untuk mencari buku Sosiologi. Dia akan belajar dengan Mr. Hidayat.
Aku ingin ke kamar, ingin beristirahat. Nanti malam aka nada jamuan makan bersama. Kata Gusenda, acara itu rutin diadakan setiap satu tahun sekali.
Aku menaiki tangga yang menghubungkan lantai dua, dengan lantai kamarku di lantai tiga. Sejak berakhirnya pelajaran, Gusenda tidak terlihat lagi batang hidungnya. Aku sempat melihatnya keluar kelas sangat buru-buru. Aku rasa ada sesuatu yang penting.
Tinggal beberapa anak tangga lagi aku akan sampai di lorong lantai tiga. Sebenarnya masih ada dua lantai lagi, aku tidak tahu isi lantai empat dan lima. Feelingku mungkin tempat penyimpanan barang tidak berguna, atau mungkin saja tempat kamar mandi? Jangan dipikirkan. Aku hanya bergurau. Aku lelah, letih, tak ada yang menemani.
“Hai, Raja” seseorang menyapaku.
“Hai…” aku tidak tahu siapa nama orang itu. Yang pasti dia baru saja turun dari lorong lantai tiga. Seperti biasa lorong ini selalu sepi. Meskipun hari belum malam, entah kenapa aura disini terasa menakutkan. Salah satu alasannya adalah koridor sangat sunyi. Aku berjalan pelan. Menikmati irama yang dihasilkan kakiku.
KREEEKKK!
Aku tersentak. Apa itu? Dan ketika aku melihat…, oh, bikin kaget saja. Aku kira ada hal aneh lagi yang mengganggu diriku, ternyata hanya bunyi pintu yang terbuka karena siswa keluar dari dalam kamarnya. Aku tersenyum, dia membalas senyum dan berjalan pergi.
Sejak kejadian di kantin tadi, perasaanku mulai tak karuan, bahkan dengan menenangkan diri diperpustakaan belum berhasil membuat jiwaku tenang sepenuhnya. Aku sampai dikamarku, didepan kamar. Mengambil kunci dari saku celana, memasukkannya kelubang pintu, dan memutar knopnya. Bunyi aneh yang pelan terdengar ketika aku membuka pintu, tunggu sebentar. Aku teringat sesuatu, aku berniat melihat kamar Ichwan, untung saja aku teringat.
“Hanya melihat sebentar saja,” Gumamku. Aku tidak jadi masuk kedalam kamar karena rasa penasaran yang tinggi. Aku menutup kamar lagi. Memeriksa keadaan, tidak ada siapa-siapa selain aku. Kondisi masih aman, aku berjalan pelan.
Setiap langkah kudengar bunyi detak jantungku. Aku merasa seperti seorang pencuri yang akan melaksanakan aksi.
Aku memutar setiap kenop masing- masing pintu. Tidak ada yang terbuka satu pun, ada sebuah kamar dipojokan lorong. Kamar yang kelihatan beda dari kamar-kamar lain.
Kenapa pintunya tampak lebih kusam dan tua? Aku mendekati pintu itu.
Kotor sekali, keluhku dalam hati. Aku mengetuk pintunya, pintunya terbuka sendiri.
Saat aku lihat kedalam.. ASTAGA APA ITU?! APAKAH ITU…. *BERSAMBUNG!* :p

2 Responses to "Dibalik keberadaannya. - Suara aneh itu (Jilid 3)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel