Dibalik keberadaannya. - Suasana baru. (Jilid 2)

“Perkenalkan namaku Raja Stam. Pindahan dari sekolah Houston.” Aku memperkenalkan diri di depan siswa yang tampak bosan.
Pandangan mereka seolah ingin cepat keluar dari kelas. Aku melirik guru yang mengajar dikelas.
“Berikan sambutan hangat untuk teman baru kalian. Baiklah Raja, semoga kamu senang berada di sekolah ini.” Ujarnya. Aku tersenyum. Guru itu menyuruhku duduk di kursi bagian belakang.

Kulihat tidak ada yang berniat berteman denganku, seolah mereka tidak memperdulikan diriku disini. Sekolah ini bisa dibilang sekolah yang amat besar, kurasa sekolah ini belum lama dibangun. Sejak masuk kesini, sama sekali tidak ada arsitek kuno yang menempel.

Ada seorang siswa yang membuatku heran. Siswa yang duduk di bangku paling pojok. Laki-laki ini terus menatap kearah jendela. Seolah ada yang menantinya di luar sana, bahkan dia tidak menatapku saat memperkenalkan diri.

Apakah dia seperti Yaya? Entahlah, aku tidak tahu.
“Buka buku halaman enam puluh Sembilan. Kita akan belajar mengenai sejarah manusia.”

****
Aku berjalan di koridor sekolah yang baru. Rasanya tidak ada yang beda dengan sekolah yang lama. Ada banyak ruangan di lorong ini. Aku mencari-cari toilet, tapi tidak ketemu.
Aku mencoba bertanya kepada siswa lain, tetapi mereka asyik dengan percakapan mereka.
“Mungkin yang itu.” Gumamku yang sudah tak tahan.

Jam istirahat. Dari jadwal yang kulihat, nanti aku masuk ke kelas Madam Nanda. Seperti apa guru itu? Siswa-siswa terlihat senang saat jam istirahat.

“Joane, maukah kau menemaniku ke perpustakaan? Aku ingin meminjam buku agama.” Ujar siswa perempuan . “Baiklah, Linda.” Sepanjang koridor aku mendengarkan perbincangan siswa-siswa. Mereka tampak bahagia dengan teman masing-masing, dan aku masih sendiri.

Eh, seseorang menyenggol bahaku.
“Oh, maaf. Aku terburu-buru.” Ujar laki-laki itu. Ketika melihatku dia bingung. “Tidak apa-apa.” Jawabku sambil tersenyum.
“Kamu anak baru, ya?” Tanyanya. Aku mengangguk, dia terlihat ramah. “Namaku Gusenda Stevanno Magistra, salam kenal.” Dia mengulurkan tangan. Aku tersenyum. “Aku Raja Stam,” aku menjabat tangan uluran tangannya.
“Kamu mau kemana?” Tanyaku “Aku mau ke ruangan UKS, temanku ada yang sakit disana,” jawabnya.
“Besok, mau kah kau bermain denganku? Aku akan mengenalkanmu dengan teman yang lain,” terusnya.
“Aku harus buru-buru, sudah ya. Dah..”
Sebelum aku menjawab, anak bernama Gusenda itu telah berlari kearah ruang UKS. Aku hanya bisa tercengan-cengan dengan tangan yang melambai. Sepertinya orang-orang disini baik.

Aku menuruni tangga menuju lantai utama. Aku akan kehalaman, menikmati udara segar di sekitar sini. Siapa tahu ditempat ini ada bukit kecil. Dan, kapan-kapan aku bisa kesana untuk melihat pemandangan yang lebih jelas. Banyak siswa yang belalu-lalang. Senang sekali, batinku.

Eh, siswa itu! Aku menemukan siswa dikelas pertama tadi. Siswa laki-laki yang duduk dipaling pojok. Aku belum tahu siapa namanya. Dan tampak asyik dengan aktifitas yang dia lakukan.
Aku mendekatinya. “Hei…,” sapaku kepada laki-laki itu. Dia melirikku sebentar, menangguk, kemudian kembali focus ke benda di tangannya.
“Kamu yang tadi bukan? Aku belum tahu namamu,” kataku kepadanya. Dengan tidak melihat ke arahku, dia menjawab “Ichwan, Ichwan Jamiel.”
Aku duduk disebelahnya. “Kamu suka menggambar? Apakah gambar itu berdasarkan suatu model atau hanya membanyangkan saja?” Dia menatapku lagi.
“Aku rasa keduanya,” ujarnya. “Hingga akhirnya aku akan memberikan sepasang sayap.”
“Apakah dia seorang malaikat?” Ichwan menggeleng. “Entahlah.”

Keheningan terjadi.

Aku menatap ke depan. Lebih tepat-nya pemandangan hutan, sama seperti dirumahku, ada pemandangan hutan. Hijau sekali tempat ini, langitnya juga cerah. Angin yang sejuk muncul, membuat rambutku berkibas. “Namamu Raja, bukan?” Tanya Ichwan.

4 Responses to "Dibalik keberadaannya. - Suasana baru. (Jilid 2)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel